Dikira Jamur, Makhluk Tinggi 8 Meter Ini Ternyata Organisme Lain

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
20 February 2026 08:20
Rekonstruksi kehidupan Prototaxites taiti yang tumbuh di ekosistem batuan chert Rhynie berusia 407 juta tahun. (via M. Humpage, Northern Rogue Studios)
Foto: Rekonstruksi kehidupan Prototaxites taiti yang tumbuh di ekosistem batuan chert Rhynie berusia 407 juta tahun. (via M. Humpage, Northern Rogue Studios)

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisme purba raksasa bernama Prototaxites yang selama ini diduga sebagai jamur raksasa ternyata bukan bagian dari kelompok jamur. Studi terbaru menyimpulkan organisme tersebut berasal dari garis keturunan kehidupan kompleks yang sepenuhnya telah punah.

Penelitian ini dilakukan paleontolog dari University of Edinburgh dan National Museums Scotland dan dipublikasikan di jurnal Science Advances.

Prototaxites merupakan organisme raksasa pertama yang menghuni daratan Bumi pada periode Silur Akhir hingga Devon, sekitar 420-370 juta tahun lalu. Fosilnya berbentuk tiang dan dapat mencapai tinggi 8 meter, mendominasi daratan jauh sebelum kemunculan pohon.

Dalam studi terbaru, peneliti memusatkan perhatian pada spesies Prototaxites taiti yang terawetkan dengan sangat baik di situs fosil Rhynie chert berusia 407 juta tahun di Aberdeenshire, Skotlandia. Spesimen yang dianalisis merupakan contoh terbesar yang pernah ditemukan di lokasi tersebut.

"Ini adalah salah satu ekosistem darat purba yang membatu tertua di dunia. Karena kualitas pengawetannya dan keragaman organismenya, kami dapat menerapkan pendekatan baru seperti pembelajaran mesin pada data molekuler fosil," ujar penulis utama studi Corentin Loron, dikutip dari SciNews, Jumat (13/2/2026).

Analisis mikroskopis menunjukkan struktur internal kompleks yang tidak menyerupai jamur mana pun yang dikenal saat ini. Fosil tersebut terdiri atas tiga tipe tabung berbeda dengan pola percabangan unik yang tidak memiliki padanan dalam biologi jamur.

Tim peneliti juga melakukan analisis kimia menggunakan spektroskopi inframerah dan pembelajaran mesin. Hasilnya, mereka tidak menemukan tanda kimia khas jamur seperti dinding sel kaya kitin maupun biomarker perylene yang lazim ditemukan pada fosil jamur lain di lokasi yang sama.

Berdasarkan bukti anatomi dan molekuler tersebut, peneliti menyimpulkan Prototaxites tidak dapat diklasifikasikan sebagai jamur maupun kelompok organisme kompleks besar lainnya. Organisme ini dinilai mewakili cabang evolusi tersendiri yang kini telah sepenuhnya punah.

Dengan demikian, Prototaxites merepresentasikan "eksperimen independen" dalam sejarah evolusi, ketika kehidupan pernah membangun organisme besar dan kompleks melalui jalur yang kini tidak lagi ada, dan hanya dapat dipahami melalui fosil yang terawetkan.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Wilayah RI Terbelah Menjadi Dua, Alasannya Diungkap Ahli Australia


Most Popular
Features