Apple Pakai Teknologi Israel Buat Lacak Wajah Pemilik iPhone
Jakarta, CNBC Indonesia - Apple baru saja mengumumkan pembelian perusahaan asal Israel bernama Q.ai. Startup yang bergerak dalam layanan pelacakan gerakan wajah itu diakuisisi senilai US$2 miliar atau Rp 33,5 triliun.
"Q adalah perusahana yang luar biasa, mempelopori cara baru dan kreatif untuk menggunakan teknologi pencitraan dan pembelajaran mesin. Kami sangat senang mengakuisisi perusahaan yang dipimpin Aviad (Aviad Maizels, salah satu pendiri Q.ai) dan bersemangat mengenai apa yang terjadi di masa depan," jelas wakil presiden senior teknologi hardware Apple dan eksekutif Israel paling senior di perusahaan, Johnny Srouji, dikutip Senin (2/2/2026).
Laporan Bloomberg yang dikutip Gizmodo mengatakan keunggulan utama perusahaan itu adalah memahami komunikasi tanpa suara. Q.ai akan menganalisa gerakan otot wajah seseorang saat berbicara.
Kemungkinan Apple akan menggunakan teknologi dari Q.ai untuk fitur AI pada AirPods Apple di masa depan. Bisa juga untuk FaceTime atau proyek kacamata serta headset milik pembuat iPhone itu.
Apple sebenarnya juga tak terlalu asing dengan Q.ai. Sebab Maizels yang juga pendirinya pernah bekerja sama dengan Apple di masa lalu.
Pada 2005, Maizels pernah memiliki perusahaan sensor 3D, PrimeSense, yang kemudian meminjamkan teknologinya kepada versi awal Xbox Kinnect dari Microsoft. Perangkat ini adalah sistem pengontrol penginderaan gerak.
Perusahaan diakuisisi oleh Apple pada 2013, menjadi dasar fitur FaceID yang dirilis empat tahun kemudian.
Maizels juga pernah bekerja dengan Apple hingga beberapa tahun lalu, sebelum akhirnya mendirikan Q.ai yang kemudian bertemu lagi dengan raksasa asal Cupertino AS itu.
Namun, Gizmodo mencatat investasi ini kemungkinan tidak akan diterima dengan baik oleh sebagian besar karyawan Apple. Mereka diketahui telah lama mendesak perusahaan menarik investasinya Israel.
Sebelumnya, Apple pernah dilaporkan memberikan sumbangan kepada Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Selain itu, perusahaan telah mengoperasikan fasilitas penelitian dan pengembangan hampir satu dekade di negara tersebut.
Q.ai juga nyatanya terlibat dengan IDF. Karena CTech melaporkan 30% karyawannya direkrut ke dinas militer IDF setelah Hamas melakukan serangan pada 7 Oktober 2023 lalu.
(dem/dem)