China Raja Cuci Uang, Sehari Gelapkan Dana Rp 737 Miliar
Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas pencucian uang di China menjadi yang paling tinggi di dunia. Tercatat mencapai US$44 juta (Rp 737 miliar) per hari selama tahun lalu.
Jaringan pencucian uang berbahasa Mandiri (CLMN) ditemukan mendominasi dalam aktivitas pencucian uang kripto. Chainalysis mencatat pangsa pasarnya mengalami peningkatan menjadi 20% pada 2025 dan tumbuh 7.325 kali lebih cepat sejak 2020 lalu.
Laporan yang sama menyebutkan jaringan ini memproses US$16,1 miliar (Rp 26,9 triliun) sepanjang 2025 lalu. Aktivitas penggelapan dana sebesar US$44 juta terjadi pada lebih dari 1.799 dompet aktif.
Sejumlah layanan disebutkan membentuk ekosistem CMLN, yakni Black U, Gambling insider, Money movement, Money mule, OTC, dan Running point broker. Semua layanan ini juga telah bisa memproses US$1 miliar (Rp 16,7 triliun).
Misalnya Black U 236 hari, point broker 843 hari, dan OTC selama 1.136 hari. Sementara money mule 1.277 hari dan transfer uang menjadi yang paling lambat 1.790 hari, sedangkan perjudian belum menyentuh angka US$1 miliar.
Pertumbuhan yang pesat dikaitkan dengan jaringan kriminal di luar rantai bloknya. Karena kemungkinan akan sulit dicapai tanpa ada modal besar di dalamnya.
Sementara menurut Direktur Centre for Finance &Security (CFS) RUSI, Tom Keatinge, perkembangan jaringan itu juga karena adanya pemberlakuan kontrol modal di China.
"Jawaban singkatnya karena konsekuensi tidak terduga dari pemberlakuan kontrol modal di China. Individu kaya yang berupaya memindahkan uang keluar dari China dan menghindari kontrol ini memberikan dorongan dan likuiditas yang diburuhkan untuk melayani kelompok kejahatan terorganisir berbasis di Barat," jelasnya dikutip Rabu (28/1/2026).
"Para fasilitator profesional dari pelarian modal ini menyediakan layanan yang dibutuhkan untuk memenuhi dua kebutuhan yang independen namun saling menguntungkan," dia menjelaskan.
Chris Urban selaku Managing Director Neardello & Co mengatakan perubahan dalam jaringan pencucian uang China karena adanya transisi cepat dari ketergantungan sistem transfer nilai informal ke kripto. Cara terakhir disebut lebih efisien untuk memindahkan dana tanpa diketahui pihak manapun.
"Kripto menawarkan cara yang efisien memindahkan dana secara diam-diam melintasi perbatasan tanpa bergantung pada jaringan manual yang kompleks dari buku besar informasi di berbagai negara yang bernama norma," kata Urban.
(fab/fab)[Gambas:Video CNBC]