Jam Kiamat Mendekati Tengah Malam, Dunia Diambang Kehancuran
Jakarta, CNBC Indonesia - Jam kiamat dari Bulletin of The Atomic Scientists maju menjadi 85 detik menuju tengah malam. Ini menandakan masyarakat dunia lebih dekat dengan ancaman buatan manusia.
Jam Kiamat itu dirilis setiap tahunnya sejak 1947 mewakili risiko ancaman yang dihadapi. Untuk tahun ini jam kiamat disebut yang paling dekat dalam sejarah.
Pihak Bulletin of The Atomic Scientists mengungkapkan alasan jam kiamat lebih dekat lagi dengan tengah malam. Salah satunya adalah potensi ancaman teknologi AI yang kini sedang berkembang dengan masif.
"Kesepahaman global yang susah diraih tengah runtuh, mempercepat persaingan kekuatan besar yang mengutamakan pemenang, melemahkan kerja sama internasional untuk mengurangi perang nuklir, perubahan iklim, penyalahgunaan bioteknologi, potensi ancaman AI, dan bahaya lainnya," kata lembaga tersebut dikutip dari IFL Science, Rabu (29/1/2026).
"Terlalu banyak pemimpin yang lengah dan acuh tak acuh, banyak kasus mengadopsi retorika dan kebijakan yang mempercepat, bukan mengurangi, risiko eksistensi ini. Karena kegagalan kepemimpinan ini, Dewan Sains dan Keamanan Bulletin of the Atomic Scientists hari ini menetapkan Jam Kiamat 85 detik menuju tengah malam, posisi paling dekat yang pernah ada dengan bencana".
Masa 2020-an banyak konflik internasional yang akhirnya pecah. Mulai dari perang Rusia dan Ukraina, Sudan dan Kongo, Israel dan Gaza, serta Lebanon dan Iran.
Khusus di Iran juga terjadi gelombang protes dan ribuan orang tewas oleh pasukan keamanan. Selain itu, pemerintah setempat memutus akses internet.
Di Amerika Serikat (AS) saat Donald Trump menjalankan masa jabatan presiden keduanya terjadi banyak hal. Termasuk serangan militer di Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro serta istrinya awal tahun ini.
Bukan hanya itu, ancaman lain juga datang dari krisis iklim karena tindakan untuk mengatasinya telah berhenti. Meskipun di saat bersamaan, energi terbarukan menjadi sumber terbesar di dunia.
Ancaman pandemi setelah Covid-19 beberapa tahun lalu juga belum sepenuhnya hilang. Ada juga ancaman dari perkembangan AI, salah satunya Grok yang membuat heboh setelah menghasilkan banyak gambar seksual dan dikecam hampir banyak pemerintah di dunia.
Ancaman pada hak asasi manusia terus terjadi di seluruh dunia. Peningkatan misinformasi dan disinformasi secara online dan oleh politisi, tokoh dan media juga terjadi.
(dem/dem)