Klaim Tahu Lokasi Tuhan, Ahli Fisika Harvard Sebut Jaraknya dari Bumi

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
27 January 2026 07:20
Seorang astronot mengabadikan momen aurora berkilauan dari luar angkasa yang dibagikan pada sosial media X pribadinya. (X/@JonnyKimUSA)
Foto: Seorang astronot mengabadikan momen aurora berkilauan dari luar angkasa yang dibagikan pada sosial media X pribadinya. (X/@JonnyKimUSA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan fisikawan Harvard, Michael Guillén, menyampaikan pandangan kontroversial bahwa Tuhan mungkin memiliki lokasi fisik di dalam alam semesta.

Dalam pandangan yang disampaikan melalui artikelnya di Fox News, Guillén menyebut bahwa Tuhan mungkin memiliki lokasi fisik di dalam alam semesta, dan secara teoritis berada sekitar 439 miliar triliun kilometer dari Bumi.

"Secara teoritis, sebuah galaksi yang berada 273 miliar triliun mil dari Bumi akan bergerak dengan kecepatan 186.000 mil per detik, yakni kecepatan cahaya. Jarak itu, jauh 'di atas' sana di ruang angkasa, disebut Cakrawala Kosmik," kata Guillen, dikutip dari IFL Science, Senin (26/1/2026). Jarak itu setara 439 miliar triliun kilometer.

Dia membuat argumen yang menggabungkan kutipan Alkitab dengan konsep fisika modern, khususnya terkait batas observasi alam semesta yang dikenal sebagai cakrawala kosmik.

Menurutnya, cakrawala kosmik merupakan batas jarak tempat galaksi-galaksi bergerak menjauh dengan kecepatan setara kecepatan cahaya akibat pengembangan ruang.

Ia menyebut jarak tersebut sebagai cakrawala kosmik yang tidak dapat teramati karena ruang di antaranya mengembang lebih cepat daripada kemampuan cahaya untuk mencapai Bumi.

"Kita hanya dapat melihat cahaya yang telah mencapai posisi kita, artinya ada batas sejauh mana bagian alam semesta yang dapat kita lihat, dikenal sebagai alam semesta teramati, karena cahaya belum sepenuhnya sampai kepada kita," ujarnya.

Guillén kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan ajaran Alkitab mengenai surga yang disebut tidak bisa diakses manusia semasa hidup dan dihuni makhluk abadi tak bermaterial. Ia menilai cakrawala kosmik dapat menggambarkan wilayah "di luar jangkauan" tersebut.

Namun, klaim tersebut dinilai spekulatif dan tidak mencerminkan pandangan ilmiah. Dalam kosmologi modern, cakrawala kosmik dipahami sebagai batas observasi yang bergantung pada posisi pengamat, bukan lokasi fisik dalam alam semesta. Model fisika saat ini juga tidak mendukung anggapan bahwa waktu berhenti pada cakrawala kosmik.

Penjelasan ilmiah menyebut bahwa cahaya dari sisi dalam cakrawala kosmik membutuhkan waktu sangat lama untuk mencapai Bumi dan akan mengalami pergeseran ke merah akibat pengembangan alam semesta. Fenomena ini membuat peristiwa di lokasi tersebut tampak lebih lambat dari sudut pandang pengamat di Bumi, tanpa berarti waktu berhenti di wilayah tersebut.

Argumentasi Guillén dinilai keliru karena memperlakukan batas observasi astronomi sebagai lokasi fisik. Selain itu, tidak ada dasar ilmiah yang menjelaskan alasan entitas ilahi akan berada pada jarak tersebut.

Sementara klaim Guillén mengenai Tuhan berdasarkan Alkitab berada di luar ranah situs sains, kosmologi yang ia gunakan untuk mendukung idenya tidak tepat, karena memperlakukan batas observasi sebagai lokasi fisik.

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harvard Ungkap Dugaan Pesawat Nuklir Alien Dekati Bumi


Most Popular
Features