Internasional

TikTok Ditinggalkan, Ramai-ramai Hapus Aplikasi Pindah ke Sini

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 27/01/2026 12:50 WIB
Foto: AP/Kiichiro Sato

Jakarta, CNBC Indonesia - Guncangan bertubi-tubi menghantam TikTok. Tekanan pertama datang dari pemerintah Amerika Serikat (AS) yang meminta induk ByteDance asal China melakukan divestasi terhadap operasional TikTok di AS, atau menghadapi blokir permanen secara nasional.

Setelah negosiasi panjang antara entitas AS dan China di tengah konflik geopolitik antara dua negara ekonomi terbesar dunia, akhirnya operasional TikTok di AS jatuh ke tangan entitas AS. Namun, tantangan berikutnya muncul.


CNBC International melaporkan banyak pengguna TikTok yang memutuskan menghapus aplikasi setelah pengumuman bahwa operasional di AS akan diserahkan ke perusahaan gabungan baru.

Dalam lima hari terakhir, rata-rata pengguna yang menghapus aplikasi TikTok naik hingga 150% dibandingkan tiga bulan sebelumnya, menurut firma riset pasar Sensor Tower, dikutip dari CNBC International, Selasa (27/1/2026).

Pekan lalu, TikTok mengatakan akan membentuk perusahaan gabungan baru demi mengamankan operasionalnya di AS, di bawah kepemimpinan entitas AS. Perusahaan menunjuk Adam Presser, mantan kepala operasional TikTok, sebagai CEO di perusahaan gabungan baru tersebut.

Beberapa pengguna di AS menyuarakan keraguan mereka terhadap perusahaan gabungan baru tersebut. Terlebih, setelah pengguna diminta untuk menyepakati pembaruan kebijakan privasi pada pekan lalu.

Dalam kebijakan baru yang ramai diunggah ke media sosial, disebutkan beberapa jenis data yang kemungkinan bakal dihimpun TikTok. Beberapa di antaranya merupakan data pribadi yang bersifat sensitif, seperti ras dan etnik asal, serta orientasi seksual. Ada juga permintaan untuk data seperti kewarganegaraan atau status imigrasi, serta informasi keuangan.

Meskipun poin-poin itu memicu kontroversi yang ramai di media sosial, tetapi bahasa-bahasa yang digunakan dalam deskripsinya sebenarnya bukan hal baru. Versi sebelumnya yang sudah diarsipkan dari Agustus 2024 silam memasukkan poin-poin serupa.

Namun, poin-poin tersebut viral bersamaan dengan pengumuman operasional TikTok di bawah perusahaan gabungan baru, sehingga menimbulkan sentimen negatif di mata publik.

"Jika saya bisa menghapus platform terbesar saya karena terms and condition (T&C) dan penyensoran yang sudah tak terkontrol, Anda juga bisa melakukannya," kata kreator konten Dre Ronayne dalam unggahan di Threads.

Ronayne mengatakan ia memiliki hampir 400.000 pengikut di TikTok sebelum memutuskan menghapus aplikasi tersebut pada akhir pekan lalu.

Beberapa kreator konten lain juga melaporkan masalah ketika hendak mengunggah konten di TikTok. Mereka mengeluhkan beberapa video tak bisa di-upload ke aplikasi.

Salah satu kreator konten TikTok populer, Nadya Okamoto, mengatakan TikTok AS belum menjabarkan secara perinci apa dampak pembentukan perusahaan gabungan baru terhadap operasional yang saat ini berjalan. Okamoto memiliki lebih dari 4 juta pengikut di TikTok.

"Hal ini yang menyebabkan banyak orang paranoid, karena kami tak tahu apa yang sedang terjadi," ia menuturkan.

Okamoto mengatakan kepada CNBC International bahwa ia mengalami masalah dengan platform tersebut selama beberapa hari. Ia tak bisa mengunggah video baru selama 24 jam. Di tengah ketidakpastian tersebut, Okamoto memilih mengunggah konten-kontennya di Instagram milik Meta dan YouTube milik Google.

Sebuah akun di X yang terafiliasi dengan perusahaan gabungan baru TikTok mengatakan gangguan layanan disebabkan pemadaman listrik di sebuah data center AS.

"Kami berkoordinasi dengan mitra data center kami untuk menstabilkan layanan kami. Kami meminta maaf atas gangguan ini dan semoga bisa cepat pulih," kata akun tersebut.

Kendati demikian, peningkatan uninstall aplikasi TikTok tak sejalan dengan berkurangnya penggunaan aplikasi itu di AS. Tingkat pengguna aktif TikTok di AS relatif masih stagnan dibandingkan pekan sebelumnya, menurut laporan Sensor Tower.

Kendati demikian, ketertarikan masyarakat terhadi aplikasi-aplikasi pesaing TikTok tampak makin bergairah. Sensor Tower mengatakan download aplikasi UpScrolled meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya, sementara Skylight Social meningkat 919%. Selain itu, download aplikasi Rednote asal China melonjak 53% dari pekan-ke-pekan. TikTok tidak merespons permintaan komentar.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tiktok di Amerika Serikat Resmi Diakuisisi!