Kisah Pilu Karyawan China Kerja Diminta Revisi di Hari Kematiannya

Intan Rakhmayanti, CNBC Indonesia
Selasa, 27/01/2026 10:20 WIB
Foto: Ilustrasi penandatanganan Kontrak Kerja. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kematian seorang programmer berusia 32 tahun di Guangdong menjadi sorotan karena diduga menjadi praktik kerja berlebihan di sejumlah perusahaan teknologi di China.

Berdasarkan laporan media lokal dan keterangan keluarga, Gao Guanghui (transliterasi) dilaporkan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung) setelah mengalami tekanan kerja yang ekstrem.

Istrinya mengungkapkan bahwa Gao harus menangani beban kerja setara enam hingga tujuh orang karena kekurangan staf, setelah promosi dirinya menjadi manajer di departemen perangkat lunak, demikian dikutip dari MotherShip, Selasa (27/1/2026).


Selama beberapa pekan sebelum meninggal pada 29 November 2025, Gao disebut hanya tidur sekitar 6-7 jam sehari, berangkat kerja sejak pukul 07.00 pagi dan baru kembali sekitar 23.00 malam. Ia bahkan diminta mengikuti rapat dan panggilan kerja saat mengemudi, serta diberikan tanggung jawab tambahan seperti mendampingi tim penjualan dalam negosiasi dan mengkoordinasi proyek lintas departemen.

Sistem penggajian di perusahaannya juga disebut memberlakukan model "gaji pokok rendah, kinerja tinggi", yang membutuhkan jam kerja panjang untuk mencapai penghasilan lebih tinggi.

Gajinya dilaporkan meningkat dari RMB 3.000 (Rp 7,2 juta) menjadi RMB 19.000 (Rp 45,8 juta) sekitar satu bulan sebelum kematiannya.

Masih Kerja di Hari Kematiannya

Hal yang paling mengejutkan publik adalah klaim bahwa Gao masih menerima pesan terkait pekerjaan bahkan ketika dokter sedang berupaya menyelamatkan nyawanya.

Pihak keluarga mengatakan bahwa ketika ia menjalani perawatan darurat, ia dimasukkan ke dalam grup kerja teknis di WeChat. Pada saat itu, seorang rekan kerja disebut mengirim pesan yang memintanya untuk "membantu memproses pesanan ini".

Yang lebih mengganggu, delapan jam setelah Gao dinyatakan meninggal dunia, sebuah pesan lain dikabarkan masuk yang mengatakan: "Ada tugas mendesak pada Senin pagi, barang gagal inspeksi hari ini, jadi ini perlu diubah."

Data yang diakses keluarga menunjukkan bahwa Gao masuk ke sistem perusahaan setidaknya lima kali pada hari ia meninggal.

Keluarga Gao kini tengah mengajukan klaim kompensasi atas kematiannya yang diyakini akibat kelebihan beban kerja.

Istri almarhum juga mengungkapkan pengalaman pahit ketika menerima barang-barang pribadi suaminya dari perusahaan dalam keadaan tidak teratur, bahkan sejumlah barang hilang tanpa penjelasan.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Transaksi Digital Bikin Bisnis Properti - Logistik Makin Cuan