Pria Ini Dapat Tagihan Pajak Rp135 T, Begini Reaksinya

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
26 January 2026 08:15
Jensen Huang, CEO Nvidia, berbicara selama konferensi pers setelah KTT CEO Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2025 di Gyeongju, Korea Selatan, 31 Oktober 2025. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Foto: Jensen Huang, CEO Nvidia, berbicara selama konferensi pers setelah KTT CEO Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2025 di Gyeongju, Korea Selatan, 31 Oktober 2025. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana penerapan pajak kekayaan bagi miliarder di California, Amerika Serikat, memunculkan beragam tanggapan dari kalangan pengusaha besar. Sebagian di antaranya disebut mempertimbangkan untuk pindah dan memindahkan bisnis ke negara bagian lain guna menghindari beban pajak tambahan.

Pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page, misalnya, dilaporkan memilih langkah tersebut sebagai respons atas kebijakan yang direncanakan. Di sisi lain, pendiri sekaligus CEO Nvidia, Jensen Huang, justru menyatakan tidak mempermasalahkan potensi kewajiban pajak besar yang mungkin harus ia tanggung.

Berdasarkan data per 16 Januari, kekayaan Huang ditaksir mencapai sekitar US$161 miliar, menjadikannya orang terkaya ke-8 di dunia, menurut laporan Forbes. Dengan nilai kekayaan tersebut, ia berpotensi dikenai pajak kekayaan satu kali sebesar 5% atau sekitar US$8 miliar, setara Rp 135 triliun dengan asumsi kurs Rp16.900 per dolar AS, apabila kebijakan itu resmi diberlakukan.

Menanggapi isu tersebut, Huang mengaku tidak pernah benar-benar memikirkan besaran pajak yang mungkin harus dibayarkan. Ia menyatakan siap mematuhi aturan apa pun yang ditetapkan pemerintah California, tempat ia dan perusahaannya bermarkas.

"Saya bahkan tidak pernah memikirkannya," ujar Huang dalam wawancara dengan Bloomberg TV, dikutip Sabtu (24/1/2026).

Bahkan, Ia menegaskan bahwa akan membayar berapapun sesuai dengan ketentuan yang berlaku. "Kami memilih tinggal di Silicon Valley, dan berapapun pajak yang ingin diterapkan, tidak masalah bagi saya," sebutnya.

Usulan pajak ini diajukan pada November 2025 oleh serikat pekerja sektor kesehatan dan didukung sejumlah legislator progresif AS. Usulan tersebut diperjuangkan oleh anggota parlemen termasuk Rep Ro Khanna, D-Calif dan Senator Bernie Sanders, I-Vt. Skema tersebut menyasar sekitar 200 orang terkaya di California, dengan potensi penerimaan mencapai US$100 miliar.

Hasil dana pajak tersebut akan dialokasikan untuk menutup defisit anggaran kesehatan California, yang membengkak setelah pemangkasan belanja federal, serta membiayai pendidikan publik dan program bantuan pangan.

Inisiatif ini harus mendapatkan lebih dari 870.000 tanda tangan untuk bisa masuk ke dalam pemungutan suara di bulan November 2026, di mana para pemilih di California akan memutuskan apakah mereka akan memberlakukannya atau tidak.

Jika berhasil, para miliarder yang saat ini tinggal di California akan dikenai pajak atas semua aset yang bernilai, termasuk saham atau bisnis apa pun yang mereka miliki, terlepas dari apakah mereka akan pindah ke luar California pada tahun 2026.

Dalam proposal tersebut, pajak akan dikenakan atas seluruh aset bernilai ekonomis, termasuk saham dan kepemilikan bisnis, meskipun wajib pajak pindah dari California setelah awal 2026. Namun, aset properti dikecualikan karena telah dikenakan pajak properti. Pembayaran juga dapat dicicil hingga lima tahun.

Sikap Huang yang santai kontras dengan banyak miliarder lainnya. Sejumlah pengusaha teknologi menyebut pajak kekayaan berpotensi memaksa pendiri perusahaan menjual saham dalam jumlah besar untuk memenuhi kewajiban likuiditas.

Salah satu miliarder pendiri Anduril, Palmer Luckey, misalnya, mengatakan bahwa pajak yang diusulkan akan memaksa para pendiri miliarder untuk menjual sebagian besar perusahaan nya untuk mendapatkan likuiditas yang cukup untuk membayar tagihan pajak mereka.

"Sekarang saya dan rekan-rekan pendiri saya harus mencari uang tunai miliaran dolar," tulisnya dalam sebuah posting pada 28 Desember di platform media sosial X.

Miliarder lain, pemodal ventura dan salah satu pendiri Sun Microsystems Vinod Khosla, menyarankan dalam sebuah posting pada 28 Desember di X bahwa pajak kekayaan akan meyakinkan para miliarder untuk meninggalkan negara bagian tersebut.

Sebaliknya, para pendukung inisiatif pemungutan suara telah menunjukkan studi yang menyanggah gagasan bahwa pajak yang lebih tinggi mengakibatkan migrasi sejumlah besar orang kaya dan bisnis.

Mengutip sebuah artikel pada 26 Desember di The New York Times, para pemimpin bisnis lainnya, termasuk salah satu pendiri Google, Larry Page, dan pemodal ventura Peter Thiel, dilaporkan mempertimbangkan untuk meninggalkan California sebelum akhir tahun 2025 untuk menghindari proposal pajak tersebut.

Namun, baik Page maupun Thiel tidak mengumumkan secara terbuka mengenai perubahan tempat tinggal mereka, dan juru bicara masing-masing miliarder tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Sebagai informasi, kekayaan Huang sebagian besar berasal dari kepemilikan sekitar 3% saham Nvidia, perusahaan semikonduktor yang kini memiliki valuasi pasar lebih dari US$4,6 triliun, seiring ledakan permintaan chip kecerdasan buatan AI global.

(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Misteri Sumber Harta Kekayaan Terbesar Manusia Rp 2.500 Triliun


Most Popular
Features