Manusia Rp 2.600 Triliun Tak Keberatan Bayar Pajak Rp 130 Triliun
Jakarta, CNBC Indonesia - Bos Nvidia Jensen Huang memastikan tak masalah harus membayar pajak US$ 7,75 miliar (Rp 130 triliun). Perkiraan pajak itu harus dibayarkan karena penerapan aturan pajak kekayaan dari pemerintah California.
Saat ditanya mengenai hal tersebut, dia mengaku belum pernah memikirkannya sama sekali. Namun dia memastikan tidak keberatan karena merupakan warga Silicon Valley, California.
"Kami memilih untuk tinggal di Silicon Valley, dan pajak apapun yang ingin diterapkan, biarkanlah. Saya sama sekali tidak keberatan," jelas Huang dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (9/1/2026).
Inisiatif pajak itu diusulkan pada November lalu dan diterapkan awal tahun ini. Aturan terbaru akan mewajibkan pajak 5% bagi seseorang dengan kekayaan total lebih dari US$1,1 miliar.
CNBC Internasional mencatat inisiatif ini perlu mengumpulkan 870 ribu tanda tangan untuk bisa diberlakukan. Jika berhasil, semua orang terkaya dunia yang tinggal di California akan dikenakan pajak dari semua aset kekayaan, termasuk saham atau bisnis yang dimiliki.
Pajak akan tetap dibebankan meskipun orang tersebut pindah dari California pada tahun 2026.
Dana pajak itu rencananya akan digunakan untuk anggaran kesehatan, program sekolah umum dan bantuan pangan di California.
Huang termasuk dalam kategori yang wajib membayar pajak berdasarkan inisiatif tersebut. Menurut perkiraan Bloomberg pada 6 Januari 2026 lalu, kekayaannya mencapai US$155 miliar atau sekitar Rp 2.600 triliun.
Artinya Huang harus membayarkan pajak US$7,75 miliar dolar jika aturan itu diberlakukan.
Berbeda dengan Huang, miliarder Palmer Luckey yang merupakan pendiri Anduril memiliki pendapat yang berbeda. Dia mengatakan orang-orang sepertinya akan berupaya mencari cara mendapatkan uang yang banyak hanya untuk membayar tagihan pajak, seperti menjual sebagian besar perusahaannya.
"Sekarang saya dan rekan-rekan pendiri harus mencari cara mendapatkan miliaran dolar secara tunai," kata Luckey.
(dem/dem)[Gambas:Video CNBC]