Krisis Air Dunia Makin Parah, PBB Bilang Bumi Sudah Bangkrut

Redaksi, CNBC Indonesia
Kamis, 22/01/2026 06:50 WIB
Foto: Isac Cicero Rodrigues menggali dasar kering danau Puraquequara untuk mendapatkan air di tengah kekeringan parah, di Manaus, negara bagian Amazonas, Brasil, Kamis, 5 Oktober 2023. (AP/Edmar Barros)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam 50 tahun terakhir, 410 juta hektare lahan basah seperti rawa dan lahan gambut, lenyap dari dunia. PBB menyatakan tren ini membuat ketersediaan air bersih di Bumi terus menyusut dan sulit kembali normal.

Kondisi Bumi sekarang disebut PBB sebagai era "bangkrut air global" yaitu air di sungai, danau, dan aquifer menyusut lebih cepat dibanding laju "pengisian kembali." Penyebabnya adalah penyedotan berlebihan, polusi, kehancuran lingkungan hidup, dan perubahan iklim yang telah berlangsung selama puluhan tahun. 

"Krisis air tidak lagi cukup untuk menggambarkan realitas air di dunia saat ini," kata UN University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH).


Istilah global water bankruptcy, jelas badan PBB tersebut, digunakan sebagai peringatan soal masa depan yang masih bisa dihindari. 

Tanda dari kondisi gawat ini antara lain adalah penyusutan luas danau terbesar di dunia dan makin banyaknya sungai yang kini sudah tidak lagi bermuara di laut, pada beberapa periode dalam setahun.

Kondisi lainnya adalah penyusutan air tanah. Sekitar 70 persen dari aquifer yang digunakan untuk sumber air minum dan irigasi menunjukkan tanda penggunaan jauh lebih tinggi dari suplai.

Fenomena "kiamat" perubahan iklim akibat pemanasan global membuat situasi makin parah. Dunia yang makin hangat menyebabkan 30 persen dari gletser di Bumi menghilang sejak 1970. Gletser padahal adalah sumber air bersih musiman yang menghidupi ratusan juta orang di seluruh dunia.

Kepada AFP, Direktur UNU-INWEH Kaveh Madani mengatakan tidak semua negara sudah "bangkrut air." Namun, dampaknya tampak jelas di semua benua sehingga harus ada perubahan kebijakan.

Dia menyarankan agar pemerintah tak lagi memandang kelangkaan air sebagai isu sementara agar tak menunda-nunda kebijakan antisipasi dan solusi.

"Mari adopsi kerangka baru ini. Pahami ini. Kenali realitas pahit hari ini sebelum ada kerusakan yang tak bisa dikembalikan," kata Madani.

Dalam pernyataan yang dikutip oleh AFP, CEO WaterAid menyatakan laporan PBB menangkap kenyataan ini, krisis air dunia memasuki titik tanpa jalan untuk kembali.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bankir Ungkap Cara Teknologi AI Ubah Wajah Bisnis Perbankan