Peneliti Temukan Pengganti Gula Jenis Baru, Alami dan Rendah Kalori

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Rabu, 21/01/2026 16:50 WIB
Foto: dpa/picture alliance via Getty I/picture alliance

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemanis buatan nol kalori yang selama ini dianggap minuman lebih sehat kembali memunculkan kekhawatiran, sehingga mendorong riset pemanis alternatif yang lebih aman.

Salah satunya adalah tagatose, pemanis alami langka yang kini tengah dikembangkan agar dapat diproduksi dalam skala besar.


Tagatose memiliki tingkat kemanisan sekitar 92% dari sukrosa (gula meja), namun mengandung hanya sepertiga jumlah kalori. Berbeda dari sukrosa dan pemanis buatan berintensitas tinggi, tagatose tidak memicu lonjakan insulin, sehingga dinilai berpotensi menjadi opsi bagi penderita diabetes atau gangguan metabolisme gula.

Selama ini tagatose hanya ditemukan dalam jumlah kecil pada produk susu dan buah tertentu. Selain itu, pemrosesan yang tidak efisien membuat harga pemanis ini sulit bersaing.

Masalah tersebut kini mulai menemukan solusi. Peneliti Tufts University bersama perusahaan bioteknologi Manus Bio (AS) dan Kcat Enzymatic (India) mengembangkan metode produksi baru yang dinilai lebih efisien dan berkelanjutan.

"Ada proses yang sudah mapan untuk memproduksi tagatose, tetapi tidak efisien dan mahal," kata insinyur biologi Tufts, Nik Nair, dikutip dari Science Alert, Rabu (21/1/2026).

Dalam riset tersebut, tim merekayasa bakteri Escherichia coli agar mampu mengubah glukosa menjadi tagatose. Kuncinya terletak pada pemasukan enzim baru dari slime mold (jamur lendir) ke dalam bakteri. Enzim tersebut, galactose-1-phosphate-selective phosphatase (Gal1P), mengubah glukosa menjadi galaktosa, yang kemudian diproses menjadi tagatose oleh enzim kedua.

Metode baru ini dilaporkan mampu meningkatkan efisiensi produksi hingga 95%, jauh di atas proses konvensional yang hanya mencapai kisaran 40-77%.

Menurut Nair, penemuan enzim Gal1P memungkinkan tim "membalik" jalur biologis alami yang biasanya mengubah galaktosa menjadi glukosa. Dengan cara ini, bahan baku glukosa dapat dikonversi menjadi galaktosa, lalu diformulasikan menjadi tagatose dan gula langka lainnya.

"Inovasi kunci dalam biosintesis tagatose berasal dari penemuan enzim Gal1P pada jamur lendir dan menggabungkannya ke dalam bakteri produksi," tulisnya di riset yang telah diterbitkan dalam jurnal Cell Reports Physical Science.

Tagatose dinilai menawarkan sejumlah keunggulan dari sisi kesehatan. Zat ini sebagian besar difermentasi di usus besar dan hanya sedikit diserap ke aliran darah, sehingga tidak memicu lonjakan insulin. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui tagatose aman dikonsumsi.

Penelitian awal juga menunjukkan tagatose bersifat ramah gigi dan berpotensi memiliki efek prebiotik bagi mikrobioma mulut. Berbeda dari sukrosa yang mempercepat pertumbuhan bakteri penyebab kerusakan gigi, tagatose justru dilaporkan dapat menghambat mikroba mulut tertentu. Selain itu, tagatose dapat digunakan dalam proses memanggang, keunggulan yang tidak dimiliki banyak pemanis rendah kalori lainnya.

Meski memiliki potensi pasar besar, teknologi produksi masih perlu dioptimalkan sebelum masuk ke fase komersial. Beberapa perkiraan memproyeksikan pasar tagatose dapat mencapai nilai US$250 juta pada 2032.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Manfaatkan Teknologi AI, Standard Chartered Siapkan 6 Pilar