Gen Z Gelisah Takut Hidup Terus-terusan Jadi Pengangguran

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Rabu, 21/01/2026 07:50 WIB
Foto: REUTERS/KIM HONG-JI

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan makin memengaruhi aktivitas kerja manusia sehari-hari. Hasil survei Randstad menunjukkan empat dari lima pekerja percaya AI akan berdampak pada tugas harian mereka di tempat kerja.

Dalam laporan tahunan "Workmonitor", Randstad mencatat lonjakan lowongan pekerjaan dengan keterampilan "AI agent" mencapai 1.587%. Data ini mengindikasikan pergeseran kebutuhan kompetensi, seiring otomatisasi mulai menggantikan pekerjaan transaksional berkompleksitas rendah.

Randstad, salah satu perusahaan perekrutan terbesar di dunia, melibatkan 27.000 pekerja dan 1.225 perusahaan, serta menganalisis lebih dari 3 juta iklan lowongan kerja di 35 pasar global.


Tekanan terhadap pasar tenaga kerja makin kuat. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya pemangkasan tenaga kerja secara global, seiring melemahnya sentimen konsumen dan eskalasi kebijakan perdagangan serta geopolitik Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump.

Sejalan dengan itu, perusahaan teknologi yang fokus pada AI mulai mengganti manusia dengan AI untuk beberapa jenis pekerjaan. Tren ini baru dalam tahap awal. Banyak korporasi masih menantikan manfaat nyata dari gelombang investasi besar-besaran pada AI yang diproyeksikan akan mengubah total dunia usaha dalam beberapa tahun mendatang.

CEO Randstad Sander van Noordende mengatakan para pekerja menunjukkan antusiasme sekaligus skeptisisme terhadap adopsi AI oleh perusahaan.

"Secara umum yang kami lihat di antara karyawan adalah mereka antusias terhadap AI, tetapi mereka juga skeptis karena perusahaan ingin melakukan hal yang selalu mereka lakukan, yakni memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi," katanya, dikutip dari Reuters, Selasa (20/1/2026).

Survei Randstad juga menunjukkan Gen Z menjadi kelompok paling mengkhawatirkan dampak AI terhadap pekerjaan, sementara Baby Boomers justru lebih percaya diri dalam beradaptasi.

Selain itu, hampir separuh responden mengaku khawatir AI akan lebih menguntungkan korporasi dibanding tenaga kerja. Di sisi lain, terjadi perbedaan tajam dalam memandang prospek ekonomi perusahaan. Sebanyak 95% pemberi kerja memperkirakan pertumbuhan tahun ini, sedangkan hanya 51% pekerja yang memiliki pandangan serupa.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Fintech di Era AI, Dorong Efisiensi-Kurangi Risiko Gagal Bayar