Siap-siap Dihantam Krisis 2026, Warga Kompak Borong Komputer

Redaksi,  CNBC Indonesia
14 January 2026 20:55
Sejumlah laptop dipasarkan di beberapa kios yang berada dalam Harco Mangga Dua, Jakarta Utara, Selasa (11/11/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Foto: Sejumlah laptop dipasarkan di beberapa kios yang berada dalam Harco Mangga Dua, Jakarta Utara, Selasa (11/11/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran terkait kelangkaan chip memori mendorong aksi pembelian komputer sepanjang 2025. Pasalnya, krisis chip diprediksi akan menaikkan harga perangkat elektronik konsumen di 2026, seperti komputer, HP, dan peralatan rumah tangga.

Perlu diketahui, permintaan chip memori meningkat drastis lantaran kemunculan teknologi kecerdasan buatan (AI). Chip AI berbeda dengan chip konvensional yang dibutuhkan untuk mengembangkan perangkat elektronik konsumen.

Para produsen chip dilaporkan memprioritaskan produksi chip memori tingkat tinggi (HBM) untuk AI, sehingga mengesampingkan produksi chip konvensional untuk perangkat elektronik.

Hal ini membuat harga melambung, sehingga pabrikan perangkat elektronik menghadapi dilema: menaikkan harga jual untuk konsumen, atau menekan harga sembari tidak menawarkan peningkatan hardware untuk produk baru.

Krisis chip memori yang ditakutkan akan menaikkan harga perangkat elektronik, ditambah kekhawatiran tarif dari pemerintahan Donald Trump di awal tahun, hingga berakhirnya dukungan untuk Windows 10, digadang-gadang menjadi faktor peningkatan penjualan komputer sepanjang 2025.

Firma riset IDC melaporkan pengapalan PC meningkat 9,6% secara tahun-ke-tahun (YoY) pada kuartal-IV (Q4) 2025 menjadi 76,4 juta unit, dikutip dari FoneArena, Rabu (14/1/2026).

Sementara itu, total pengapalan PC sepanjang 2025 meningkat 8,1% dibandingkan 2024, yakni sebanyak 284,7 unit.

Lenovo masih bertahan menjadi pemimpin pasar dengan mencatat pertumbuhan 14,5% YoY dan meraup pangsa pasar 24,9%, yakni setara dengan pengapalan 70,8 juta unit PC.

HP berada di posisi kedua dengan pertumbuhan 8,4% YoY dan meraup pangsa pasar 20,2%. Sebanyak 57,5 unit PC dikapalkan sepanjang 2025.

Kemudian di posisi ketiga ada Dell Technologies yang mencatat pertumbuhan tipis 5,2% YoY, dengan pangsa pasar 14,4% dan total 41,1 juta unit PC dipasarkan.

Apple dan Asus secara berurutan menduduki posisi keempat dan kelima. Masing-masing mencatat pertumbuhan double-digit, dengan Apple 11,1% YoY dan Asus 13,4% YoY.

Apple meraup 9% pangsa pasar global, sementara Asus 7,2%. Sebanyak 25,6 juta PC Apple dikapalkan, sementara Asus 20,5 juta sepanjang 2025.

Krisis Menanti di 2026

Pabrikan PC boleh 'berpesta pora' sepanjang 2025 karena pertumbuhan yang signifikan. Namun, pasar PC diprediksi akan tertekan gara-gara krisis chip memori pada 2026 ini.

Dilaporkan FoneArena, kemungkinan rata-rata PC akan hadir dengan spesifikasi yang lebih rendah karena kelangkaan chip memori. Pabrikan juga akan memanfaatkan cadangan komponen yang masih ada, serta menaikkan rata-rata harga jual (ASP).

Merek-merek besar seperti Lenovo, Apple, dan HP diperkirakan akan mampu melewati krisis dan memanfaatkan skala serta alokasi memori mereka untuk merebut pangsa pasar dari vendor yang lebih kecil dan regional, sehingga semakin sulit bagi merek-merek kecil untuk bertahan di pasar.

"IDC memperkirakan pasar PC akan sangat berbeda dalam 12 bulan ke depan mengingat betapa cepatnya situasi memori berkembang. Di luar tekanan yang jelas pada harga sistem, yang telah diumumkan oleh beberapa produsen, kita mungkin juga akan melihat spesifikasi memori PC diturunkan secara rata-rata untuk menjaga persediaan memori yang ada. Tahun mendatang tampaknya akan sangat fluktuatif," kata VP Riset IDC Worldwide Mobile Device Trackers, Jean Phillippe Bouchard.

"Kelangkaan memori berdampak pada seluruh industri, dan dampaknya kemungkinan akan membentuk kembali dinamika pasar selama dua tahun ke depan. Merek-merek elektronik konsumen besar berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan skala dan alokasi memori mereka untuk merebut pangsa pasar dari vendor yang lebih kecil dan regional. Namun, parahnya kelangkaan ini meningkatkan risiko bahwa merek-merek kecil mungkin tidak akan bertahan, dan konsumen, khususnya penggemar DIY, mungkin akan menunda pembelian atau mengalihkan pengeluaran mereka ke perangkat atau pengalaman lain," kata Manajer Riset di IDC Worldwide Mobile Device Trackers, Jitesh Ubrani.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kiriman Wafer Belanda Disetop ke China, Pabrik Mobil Dunia Terancam


Most Popular
Features