Cara Kerja Makin Susah, Begini Cara Baru agar Direkrut Perusahaan
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri ketenagakerjaan Indonesia tengah memasuki fase baru seiring masifnya adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam proses perekrutan. Transformasi ini menandai pergeseran besar di mana AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan menjadi inti dari seluruh perjalanan rekrutmen.
Head of AI Product SEEK, Rishi Patil menjelaskan, model rekrutmen global kini beralih dari sistem tradisional "post and pray" menjadi pendekatan predict, explain, and match yang sepenuhnya ditopang AI.
"AI kini berada di pusat setiap tahap rekrutmen, mulai dari penyusunan iklan lowongan, pencarian kandidat, penilaian kecocokan, hingga pengambilan keputusan perekrutan," kata Rishi dalam wawancara bersama media di kantor Jobstreet by SEEK Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Berdasarkan laporan SEEK 2025, hampir 20% perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI dalam proses rekrutmen. Mereka juga melaporkan peningkatan signifikan dalam efisiensi, kecepatan perekrutan, serta kualitas kecocokan kandidat.
Di sisi pencari kerja, tren penggunaan AI juga meningkat pesat. Kandidat kini memanfaatkan AI untuk riset perusahaan, menyusun CV, menulis surat lamaran, hingga mempersiapkan wawancara kerja.
Rishi menekankan, 71% perusahaan kini menganggap literasi AI sebagai keterampilan penting dalam proses rekrutmen. Walau begitu menurutnya, masa depan dunia kerja tidak akan diwarnai oleh penggantian manusia oleh mesin, melainkan kolaborasi erat antara manusia dan AI.
"Pekerjaan akan semakin teraugmentasi oleh AI. Mereka yang memahami dan mampu memanfaatkan AI secara efektif akan memiliki keunggulan besar dalam persaingan kerja global," ujarnya.
Ia menilai kesiapan tenaga kerja Indonesia relatif baik dibandingkan banyak negara berkembang lain, terutama karena tingkat adopsi teknologi digital yang tinggi. Namun, ia menegaskan pentingnya pembelajaran berkelanjutan dan peningkatan literasi AI agar Indonesia tidak tertinggal dalam kompetisi tenaga kerja global.
Adopsi AI di dunia kerja Indonesia sebenarnya sudah cukup luas, namun belum merata. Data survei 2023 BCG/The Network/Stepstone Group menunjukkan, 41% pekerja Indonesia menggunakan GenAI untuk studi, pembelajaran, dan riset, diikuti 37% untuk tugas administratif, 31% untuk pekerjaan kreatif, dan 26% untuk penulisan.
Meski demikian, dari sisi frekuensi penggunaan, Indonesia masih tertinggal dibanding rata-rata Asia Tenggara. Hanya 38% responden yang menggunakan AI secara rutin, sementara 48% lainnya mengaku belum pernah menggunakan AI sama sekali, menandakan bahwa potensi transformasi tenaga kerja Indonesia melalui AI masih sangat besar, sekaligus mendesak untuk segera dipercepat melalui peningkatan literasi dan kesiapan sumber daya manusia.
(fab/fab)