Sering Diabaikan Saat Check-in Hotel, Lakukan Ini Cegah Bahaya Datang

Zefanya Aprilia,  CNBC Indonesia
10 January 2026 18:30
Ilustrasi Check in Hotel (Photo: Mikhail Nilov via Pexels)
Foto: Ilustrasi Check in Hotel (Photo: Mikhail Nilov via Pexels)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Proses check-in hotel umumnya terasa mudah dan cepat. Tamu biasanya hanya diminta menyerahkan kartu kredit sebagai deposit, lalu menerima kartu kunci yang terselip rapi dalam amplop. Setelah itu, banyak orang menganggap urusan sudah selesai dan tinggal menikmati waktu istirahat di kamar.

Tetapi, pernahkah terpikir apa yang terjadi setelahnya? Apakah ada hal-hal kecil yang sering diabaikan tamu, tetapi sebenarnya menyimpan potensi risiko?

Mengutip Beautynesia, terdapat sejumlah ancaman keamanan terkait kartu kunci hotel yang kerap lepas dari perhatian.

Kekeliruan Umum dalam Penggunaan Kartu Kunci Hotel

Banyak tamu menyepelekan risiko kartu kunci yang hilang atau tertinggal. Padahal, kartu tersebut dapat mempermudah orang asing mengakses kamar. Karena itu, keamanan kartu kunci hotel seharusnya menjadi perhatian utama setiap tamu.

Kebiasaan sederhana sering kali tanpa disadari membuka peluang terjadinya kejahatan. Daniel Loo, pemilik North Star Group-perusahaan konsultan keamanan dan penilaian keselamatan di Texas-menjelaskan bahwa menyimpan kartu kunci di dalam amplop dengan nomor kamar yang terlihat jelas sama saja dengan menyerahkan kunci rumah lengkap dengan alamatnya kepada orang tak dikenal.

Sebagai konsultan keamanan yang berpengalaman menangani hotel kecil hingga jaringan besar, Loo menegaskan bahwa risiko ini tidak boleh dianggap sepele. Jika kartu jatuh ke tangan yang salah, pelaku dengan niat jahat dapat masuk ke kamar tanpa hambatan berarti.

Seberapa Besar Ancaman Keamanan Ini?

Data mengenai tindak kejahatan di hotel memang sulit dipastikan. Condé Nast Traveler melaporkan bahwa korban pencurian di hotel jarang melapor ke aparat, sementara pihak hotel juga tidak selalu transparan soal insiden di properti mereka.

Selain itu, data kepolisian umumnya tidak mengelompokkan pencurian berdasarkan jenis akomodasi. Meski demikian, riset gabungan Ball State University dan Florida International University menunjukkan bahwa 38 persen kasus pencurian di hotel terjadi di dalam kamar tamu, bukan di area publik.

Karena itu, menjaga kerahasiaan nomor kamar menjadi langkah penting. Hotel biasanya melatih staf untuk menuliskan nomor kamar secara tersembunyi dan tidak menyebutkannya dengan suara keras, demi melindungi privasi dan keselamatan tamu.

Loo juga mengingatkan bahwa menyebut nomor kamar secara sembarangan, bahkan saat berbincang dengan teman atau keluarga di lobi atau bar, dapat memicu risiko. Pelaku kejahatan oportunis kerap memanfaatkan informasi kecil yang mereka dengar secara tidak sengaja. Menyimpan nomor kamar untuk diri sendiri menjadi langkah keamanan sederhana namun sangat vital.

Cara Kerja Kartu Kunci Hotel

Joshua McKenty, pakar AI dan keamanan siber serta salah satu pendiri Polyguard di New York, menjelaskan bahwa kartu kunci hotel hadir dalam berbagai teknologi, mulai dari pita magnetik, Bluetooth, RFID, hingga NFC. Di antara semuanya, NFC dinilai paling aman oleh banyak ahli. Teknologi ini memungkinkan tamu menggunakan ponsel atau jam tangan pintar sebagai pengganti kartu fisik.

Meski begitu, banyak hotel masih menggunakan kartu RFID. Teknologi ini bekerja dengan cara membaca kode unik pada kartu saat didekatkan ke pembaca di pintu. Jika cocok, pintu akan terbuka. RFID tetap banyak dipilih karena sistemnya stabil dan mudah diimplementasikan.

Risiko Khusus pada Kartu RFID

Dave Meister, pakar keamanan siber dari Check Point, menjelaskan bahwa kartu RFID diprogram melalui sistem manajemen properti (Property Management System/PMS). Sistem ini menghubungkan data tamu, kamar, serta durasi menginap, sekaligus mengenkripsi kartu dengan identitas unik.

Saat ini, sebagian besar hotel masih mengandalkan RFID atau pita magnetik, dengan RFID dianggap lebih awet dan relatif aman. Namun, ancaman keamanan tidak hanya berasal dari kehilangan kartu secara fisik.

McKenty menambahkan bahwa data pada kartu kunci kini relatif mudah disalin menggunakan perangkat seperti Flipper Zero. Bahkan, proses penyalinan dapat dilakukan tanpa disadari, misalnya melalui saku atau tas.

Cara Aman Menyimpan Kartu Kunci

Langkah pertama yang disarankan adalah segera membuang amplop kartu yang mencantumkan nomor kamar. Selanjutnya, McKenty merekomendasikan penggunaan dompet berpelindung (shielded wallet) yang mampu mencegah pembacaan nirkabel, jika khawatir kartu dikloning.

Teknologi pelindung RFID dan NFC pada dompet semacam ini pada dasarnya serupa. Loo menambahkan, kartu kunci hotel sebaiknya diperlakukan layaknya kartu kredit atau debit pribadi-dijaga dengan baik dan tidak dibiarkan terlihat oleh orang lain.

Jika Takut Lupa Nomor Kamar

Sebagian tamu memilih memotret amplop kartu sebelum membuangnya agar tidak lupa nomor kamar. Namun, Loo mengingatkan bahwa cara ini justru berisiko. Jika ponsel hilang atau diretas, foto tersebut dapat dengan mudah diakses pihak lain.

Alternatif yang lebih aman adalah menghafalkan nomor kamar atau mengaitkannya dengan sesuatu yang mudah diingat, seperti potongan nomor telepon atau tanggal penting.

Masalah Lain Seputar Kartu Kunci

Kartu kunci juga bisa tiba-tiba tidak berfungsi. Meister menyebut beberapa penyebab umum, seperti demagnetisasi pada kartu pita magnetik, kerusakan fisik, atau kesalahan saat pengodean.

Anggapan bahwa kartu menjadi rusak karena diletakkan dekat ponsel atau kartu lain sering kali keliru. Dalam praktiknya, kegagalan kartu lebih sering disebabkan oleh keausan atau paparan medan magnet yang kuat.

Tips Tambahan Demi Keamanan Menginap

Meister menyarankan penggunaan kunci digital lewat ponsel jika tersedia, selama aplikasi dan jaringan hotel terpercaya. Jika tidak, ia lebih memilih kartu RFID, menyimpannya terpisah dari ponsel, dan tidak pernah meninggalkannya di kamar tanpa pengawasan.

Ia juga menghindari membagikan foto kamar atau detail menginap di media sosial sebelum check-out, guna mencegah penyalahgunaan informasi oleh pihak tak bertanggung jawab.

Loo menekankan pentingnya tetap fokus dan waspada saat berjalan menuju kamar. Hindari terlalu sibuk dengan ponsel, perhatikan jalur evakuasi, dan selalu waspada ketika membuka pintu.

Setibanya di kamar, pastikan semua pengaman terkunci, termasuk kunci tambahan. Periksa lubang intip sebelum membuka pintu dan gunakan tanda "Do Not Disturb" saat meninggalkan kamar agar kamar terlihat tetap berpenghuni.

Secara umum, McKenty menegaskan pentingnya memilih hotel bereputasi baik yang memiliki prosedur keamanan jelas, termasuk pengaturan ulang kode pintu. Jika tamu merasa tidak aman, sebaiknya segera meminta pihak resepsionis untuk mereset kunci dan menggantinya dengan yang baru.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bahaya Curhat ke ChatGPT, Isi Obrolan Ternyata Muncul di Google


Most Popular
Features