MARKET DATA

Dari Satelit Sampai Fiber Optik, Bukti Telkom Perkuat Infrastruktur

Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
29 November 2025 16:32
Sistem komunikasi kabel laut JaSuKa (Jawa-Sumatera-Kalimantan) milik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) telah pulih dan kembali beroperasi normal seperti sedia kala sejak senin pagi (4/10) pukul 05.30 WIB.
Foto: Gedung Telkom (Foto: ist)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) terus memperkuat infrastruktur jaringannya untuk menjangkau hingga seluruh pelosok negeri. Strategi ini dilakukan melalui rencana perluasan jaringan fiber optik hingga penyediaan satelit.

Untuk perluasan jaringan, Telkom melakukan pemisahan sebagian Bisnis dan Aset Wholesale Fiber Connectivity kepada entitas anak usaha PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF). Setelah aksi korporasi dilakukan pada Fase 1, TIF akan memiliki 56% dari jaringan serat optik Telkom yang merupakan pemilik infrastruktur jaringan terbesar di Indonesia dengan total sekitar 179.000 km infrastruktur backbone dan kabel bawah laut serta sekitar 500.000 km jaringan akses yang terhubung langsung ke infrastruktur jaringan seluler, bangunan, maupun pelanggan.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan, melalui strategi transformasi TLKM 2030, Telkom akan terus memperkuat fondasi bisnis dengan bertransformasi menuju perusahaan strategic holding yang lebih lean dan efisien yang berorientasi pada service excellence di setiap lini organisasi.

"Kami berkomitmen untuk terus berinovasi dan menghadirkan solusi digital yang relevan dengan kebutuhan pelanggan, sejalan dengan upaya menciptakan pertumbuhan jangka panjang serta memberikan nilai tambah bagi perusahaan, masyarakat, lingkungan, dan seluruh pemangku kepentingan," kata Dian dikutip Sabtu, (29/11/2025).

Kemudian baru-baru ini, Telkom melalui anak usahanya, Telkomsat, juga menggandeng PT Len Industri, untuk mengembangkan teknologi satelit. Infrastruktur ini nantinya tidak hanya mendukung konektivitas, tetapi juga memperkuat sistem pertahanan negara.

Keduanya akan berkolaborasi mulai dari penyediaan kapasitas satelit Merah Putih 2, pembangunan command center, hingga rencana pengorbitan satelit baru. Kerja sama ini juga mencakup riset, produksi satelit nasional, sampai rencana pembangunan wahana peluncuran di dalam negeri.

Dalam MoU ini juga mencakup rencana riset, pembangunan fasilitas produksi, serta pengoperasian konstelasi satelit geostasioner (GSO) maupun non-geostationary (NGSO).

Direktur Wholesale and International Service Telkom, Honesti Basyir, menegaskan konektivitas digital tidak bisa dilepaskan dari pertahanan.

"Perkembangan digital, termasuk artificial intelligence, sebesar apapun tetap membutuhkan konektivitas. Indonesia dengan hampir 17.000 pulau menjadikan kebutuhan konektivitas bukan sekadar kepentingan bisnis semata, melainkan bagian dari ketahanan nasional," ujarnya.

Dengan kehadiran satelit Merah Putih 2 dan ekosistem yang menyertainya, diharapkan Indonesia bisa memperkuat daya saing di industri satelit global. Adapun, dari sisi pembangunan infrastruktur strategis ini bukan hanya untuk kebutuhan militer dan pertahanan, tetapi juga membuka peluang bagi riset, industri manufaktur satelit, hingga bisnis komersial di level regional maupun internasional.

Sementara itu, saat ini, Telkomsel mengoperasikan 288.295 Base Transceiver Station (BTS), yang terdiri dari 235.627 BTS 4G dan 4.009 BTS 5G. Infrastruktur ini disiapkan untuk memastikan kapasitas yang andal guna menjawab kebutuhan digital yang terus meningkat di masa mendatang.

Dibuktikan dengan pertumbuhan lalu lintas data (data payload)l dengan peningkatan double digit sebesar 17,2% YoY menjadi 17.412.811 TB. Angka ini menegaskan peningkatan produktivitas pelanggan dan keberhasilan Telkomsel mewujudkan komitmennya dalam menjaga kualitas layanan.

(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Telkom Optimalkan ESG, Beri Dampak Positif Bagi Masyarakat-Lingkungan


Most Popular