Tak Ada Peringatan, Warga Kaget Banjir Sudah Sampai Dada-145 Tewas
Jakarta, CNBC Indonesia - Banjir besar yang melanda Kota Hat Yai, Thailand selatan, menewaskan sedikitnya 145 orang dan memicu kemarahan warga yang mengaku tidak menerima peringatan apa pun sebelum air tiba-tiba naik. Dari total korban, 110 di antaranya berasal dari Provinsi Songkhla, wilayah yang terdampak paling parah.
Dilansir Channel News Asia, bencana bermula setelah hujan deras tak henti mengguyur Hat Yai selama tiga hari. Ketika Jantarakarn Kaewjan, 40 tahun, pulang dan pergi tidur pada Jumat malam (21/11), genangan di depan apartemennya masih terlihat seperti genangan biasa.
Namun lewat tengah malam, air mulai masuk dan merangsek ke bangunan tempat tinggalnya, memaksanya memindahkan motor ke lantai lebih tinggi. "Sekitar jam 9 pagi, air sudah setinggi dada," katanya. "Semua ini hanya karena hujan."
Curah hujan yang mencapai 335 mm dalam satu hari-rekor tertinggi dalam 300 tahun-menghantam kota berpenduduk lebih dari 240.000 jiwa itu. Air dari perbukitan mengalir deras dan menenggelamkan dataran rendah padat penduduk yang tidak mampu menahan limpahan, membuat sistem drainase kota kolaps. Lembaga GISTDA menyebut banjir meningkat begitu cepat karena "arus air yang masuk tanpa henti telah melampaui kapasitas aliran sungai dan saluran kota".
Jantarakarn serta dua warga lainnya mengatakan tidak pernah menerima peringatan jelas dari otoritas lokal meski hujan terus mengguyur. Keluhan tersebut meluas, menyoroti kegagalan pemerintah dalam menangani situasi darurat.
Setelah kritik merebak, pemerintah pusat memecat kepala distrik Hat Yai dan memindahkan kepala kepolisian setempat. Wali Kota Hat Yai, Narongporn Na Phatthalung, mengaku salah menilai keadaan. "Saya dengan tulus meminta maaf kepada warga Hat Yai," ujarnya di Channel 3. "Saya mengakui bahwa saya membuat kesalahan dalam menangani situasi ini."
Saat air surut, kondisi kota berubah menjadi tumpukan lumpur dan puing. Mobil-mobil yang diparkir di jalan demi menghindari banjir kini mogok berbaris di tengah kota. Drum-drum plastik berwarna biru berjatuhan dari sebuah gudang dan menutup jalan, sementara warga sibuk membersihkan rumah yang terendam dan memungut barang-barang yang rusak.
Lebih dari 16.000 warga telah dievakuasi ke 16 pusat penampungan. Pemerintah menyetujui anggaran 4,75 miliar baht untuk membantu para korban. Penilaian awal GISTDA menunjukkan lebih dari 33.000 rumah rusak, termasuk lima rumah sakit, 58 sekolah, serta lebih dari 700 km jalan.
Daeng, seorang warga berusia 60 tahun, mengatakan pemerintah biasanya mengeluarkan pengumuman evakuasi ketika potensi banjir muncul. "Tapi kali ini tidak ada," katanya.
"Kami tidak tahu apa pun. Kami harus menyelamatkan diri sendiri." Rumahnya hancur diterjang banjir; lantai dua ambruk, ruang-ruang penuh lumpur, televisi dan tangki air ikut terseret. "Kami kehilangan segalanya," ujarnya.
Meski masih terjebak di rumah, keluarga Daeng sempat memiliki cukup makanan, tetapi dengan cepat kehabisan air bersih. Anusorn Niyomtham, kerabatnya yang berusia 40 tahun, mengatakan persediaan mereka tak bertahan lama. "Pada hari ketiga atau keempat, sudah tidak cukup lagi," katanya. "Kami terpaksa menampung air hujan."
Banjir besar ini menjadi salah satu yang paling menghancurkan di Thailand dalam beberapa tahun terakhir, sementara warga kini dihadapkan pada proses pemulihan panjang di tengah kritik keras terhadap minimnya mitigasi pemerintah sebelum bencana terjadi.
(fab/fab)[Gambas:Video CNBC]