Kantor Presiden Diduduki, Dua Karyawan Langsung Dipecat
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua orang karyawan Microsoft dipecat setelah memasuki kantor Presiden Microsoft Brad Smith tanpa izin. Keduanya adalah software engineer Riki Fameli dan Anna Hattle.
CNBC Internasional melaporkan keduanya adalah bagian dari tujuh orang yang masuk ke kantor Smith pada awal minggu ini. Saat itu, sejumlah karyawan menggelar aksi protes di dalam Gedung Microsoft karena menolak teknologi perusahaan digunakan oleh militer Israel.
Informasi pemecatan itu disampaikan No Azzure for Apartheid, kelompok afiliasi pengunjuk rasa di kantor Microsoft. Pihak peruhaan juga mengonfirmasi pemecatan tersebut.
"Dua karyawan yang dipecat hari ini setelah melakukan pelanggaran serius kebijakan dan kode etik perusahaan," kata juru bicara Microsoft dikutip Jumat (29/8/2025).
"Insiden ini tidak sesuai dengan harapan yang diberikan kepada karyawan kami. Perusahaan melakukan investigasi dan bekerja sama dengan penegak hukum terkait masalah tersebut," imbuh juru bicara perusahaan.
Terbaru jumlah karyawan yang dipecat total menjadi empat orang, yakni bertambah Nisreen Jaradat dan Julius Shan.
Dalam laporan The Guardian, militer Israel telah menggunakan infrastruktur cloud Azure milik Microsoft. Tujuannya adalah menyimpan panggilan telepon milik warga Palestina.
Smith sendiri mengatakan Microsoft akan melakukan penyelidikan dan mencari tahu kebenaran soal penerapan teknologi milik perusahaan.
Penerapan layanan ini yang menyebabkan unjuk rasa di kantor Microsoft. Smith mengatakan pengunjuk rasa menghalangi orang-orang keluar dari kantor, menanamkan alat penyadap telepon dan menolak pergi hingga diusir polisi.
(fab/fab)