Mitos Sains yang Masih Banyak Orang Percaya Padahal Salah Total
Daftar Isi
- 1. Manusia Hanya Menggunakan 10% Otaknya
- 2. Ada Sisi Bulan yang Selalu Gelap
- 3. Bulan Purnama Bikin Perilaku Manusia Menjadi Aneh
- 4. Gula Bikin Anak Jadi Hiperaktif
- 5. Petir Tidak Menyambar Tempat yang Sama Dua Kali
- 6. Uang Logam Jatuh dari Gedung Tinggi Mematikan
- 7. Rambut dan Kuku Terus Tumbuh Setelah Mati
- 8. Membunyikan Ruas Jari Sebabkan Radang Sendi
- 9. Permen Karet Butuh 7 Tahun untuk Dicerna
- 10. Antibiotik untuk Obat Flu dan Pilek
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak lama, kita sering mendengar berbagai pernyataan yang dianggap sebagai fakta ilmiah, mulai dari "manusia hanya menggunakan 10% otaknya" hingga "petir tidak pernah menyambar tempat yang sama dua kali".
Pernyataan-pernyataan ini sudah begitu melekat di masyarakat, padahal secara ilmiah semuanya keliru. Berikut adalah sejumlah mitos sains populer yang masih banyak dipercaya, beserta penjelasan ilmiah yang membantahnya:
1. Manusia Hanya Menggunakan 10% Otaknya
Ini adalah salah satu mitos paling terkenal di dunia. Faktanya, manusia menggunakan seluruh bagian otak, bukan hanya sebagian kecil saja.
Data hasil pemindaian otak sudah membuktikan hal ini. Secara logika pun hal ini masuk akal karena otak hanya memiliki berat sekitar 1-2 kilogram, tetapi memakan sekitar 20% oksigen dan glukosa yang masuk ke dalam tubuh. Jika sebagian besar otak tidak berguna, evolusi tidak akan membentuk organ yang memakan banyak energi tetapi tidak berfungsi.
Bukti lain adalah dokter tidak pernah memberi kabar gembira kepada pasien tumor dengan mengatakan "tumornya ada di bagian otak yang tidak terpakai". Cedera pada hampir seluruh bagian otak bisa menimbulkan dampak parah, yang membuktikan setiap bagiannya memiliki fungsi penting. Meskipun tidak semua bagian aktif secara bersamaan setiap detiknya, namun sepanjang hari, seluruh bagian otak digunakan.
2. Ada Sisi Bulan yang Selalu Gelap
Lagu legendaris Pink Floyd pernah mempopulerkan istilah "The Dark Side of the Moon", yang membuat banyak orang percaya bahwa ada sisi bulan yang selamanya tertutup kegelapan dan tak pernah terkena sinar matahari.
Faktanya, sisi yang tersembunyi dari pandangan kita di Bumi disebut "sisi jauh Bulan", bukan sisi gelap. Fenomena ini terjadi karena tidal locking, yaitu Bulan berputar pada porosnya dalam waktu yang sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi Bumi. Akibatnya, sisi yang menghadap Bumi selalu sama, tetapi sisi lainnya tetap terkena sinar matahari.
Sama seperti Bumi, setengah permukaan bulan selalu disinari Matahari. Saat kita melihat bulan sabit atau bulan separuh, itu berarti sinar Matahari justru sedang menyinari sisi yang tidak bisa kita lihat.
3. Bulan Purnama Bikin Perilaku Manusia Menjadi Aneh
Banyak orang percaya bahwa saat bulan purnama, angka kejahatan, kecelakaan, hingga perilaku tidak wajar meningkat drastis. Mitos ini sangat melekat, bahkan kepolisian di Inggris pernah menambah jumlah petugas saat bulan purnama untuk mengantisipasi hal tersebut.
Alasannya dikaitkan dengan gaya tarik bulan yang memengaruhi air di dalam tubuh manusia. Namun, berbagai penelitian menunjukkan tidak ada hubungan sebab-akibat antara bulan purnama dengan perubahan perilaku.
Beberapa studi yang awalnya menunjukkan hubungan, ternyata hasilnya memudar setelah memperhitungkan faktor lain seperti akhir pekan atau hari libur. Peningkatan kejadian itu terjadi karena orang lebih banyak beraktivitas di luar saat hari libur, bukan karena cahaya Bulan.
4. Gula Bikin Anak Jadi Hiperaktif
Siapa pun yang pernah menghadiri pesta ulang tahun anak pasti percaya mitos ini: semakin banyak gula yang dikonsumsi, makin liar dan aktif anak bergerak.
Secara ilmiah, tidak ada bukti kuat bahwa gula langsung menyebabkan hiperaktif, kecuali pada sebagian kecil anak yang memiliki gangguan metabolisme insulin bersamaan dengan gangguan psikiatris. Energi berlebih yang muncul biasanya disebabkan oleh suasana pesta yang seru, bertemu teman sebaya, atau kandungan kafein dalam minuman manis, bukan karena gula itu sendiri.
Meski begitu, konsumsi gula tetap harus dibatasi. Rata-rata orang Amerika saat ini mengonsumsi sekitar 70 kilogram gula per tahun, jauh lebih banyak dibandingkan 200 tahun lalu yang hanya sekitar 1-2 kilogram. Terlalu banyak gula terbukti memicu obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, hingga risiko kanker.
5. Petir Tidak Menyambar Tempat yang Sama Dua Kali
Ungkapan ini sering dipakai sebagai kiasan bahwa musibah tidak akan terulang di tempat atau pada orang yang sama. Namun, secara fisika, ini sangat keliru.
Petir adalah pelepasan muatan listrik raksasa yang mencari jalur terpendek menuju tanah. Benda yang tinggi dan menjulang seperti gedung pencakar langit atau pohon besar justru menjadi sasaran utama. Gedung Empire State Building misalnya, tersambar petir rata-rata 100 kali setiap tahunnya.
Bahkan penelitian NASA tahun 2003 menunjukkan, lebih dari sepertinya sambaran petir bisa bercabang dan menyambar dua tempat berbeda secara bersamaan. Jadi, petir tidak hanya menyambar dua kali, tapi bisa menyambar dua tempat sekaligus dalam satu waktu.
6. Uang Logam Jatuh dari Gedung Tinggi Mematikan
Banyak orang takut melempar benda kecil dari tempat tinggi karena yakin benda itu akan jatuh dengan kecepatan tinggi dan mematikan. Faktanya, uang logam yang beratnya sekitar 1 gram dan bentuknya pipih tidak memiliki sifat aerodinamika yang mulus.
Saat jatuh, uang logam akan berputar-putar dan bergoncang, sehingga kecepatan akhirnya hanya mencapai sekitar 105 km/jam. Jika jatuh mengenai seseorang, rasanya hanya seperti disentil, tapi tidak mematikan. Hal ini berbeda dengan benda yang lebih berat atau bentuknya aerodinamis seperti paku atau batu, yang bisa berbahaya jika jatuh dari ketinggian.
7. Rambut dan Kuku Terus Tumbuh Setelah Mati
Mitos ini muncul karena jenazah sering terlihat memiliki kuku atau rambut yang lebih panjang beberapa hari setelah meninggal. Padahal, sel-sel tubuh membutuhkan nutrisi dan proses metabolisme untuk tumbuh-sesuatu yang berhenti total saat seseorang meninggal dunia.
Penjelasannya justru ada pada kulit. Saat tubuh kaku dan kering, kulit akan menyusut dan menarik diri dari pangkal rambut dan kuku. Karena kulit menyusut sementara rambut dan kuku ukurannya tetap, timbul ilusi seolah-olah keduanya terus memanjang. Rumah duka biasanya menggunakan pelembap untuk mencegah kulit mengering dan mengurangi efek ini.
8. Membunyikan Ruas Jari Sebabkan Radang Sendi
Banyak orang dicegah membunyikan jari karena dikhawatirkan menyebabkan radang sendi atau osteoartritis. Padahal, penelitian ilmiah tidak menemukan hubungan keduanya.
Salah satu penelitian paling terkenal dilakukan oleh Donald Unger, yang selama 60 tahun membunyikan jari tangan kiri setiap hari, sedangkan tangan kanan tidak pernah. Hasilnya, kesehatan sendi kedua tangan sama persis. Ia bahkan mendapat penghargaan Ig Nobel tahun 2009 untuk penelitian ini.
Suara letupan itu sebenarnya berasal dari gelembung gas yang pecah di dalam cairan pelumas sendi saat ruas jari ditarik. Suara itu sendiri tidak berbahaya, kecuali jika disertai rasa sakit, yang bisa menandakan ada kerusakan lain.
9. Permen Karet Butuh 7 Tahun untuk Dicerna
Mitos ini membuat banyak orang takut menelan permen karet, khawatir ia akan menumpuk di perut selama bertahun-tahun. Faktanya, tubuh manusia sama sekali tidak bisa mencerna bahan dasar permen karet, yang terbuat dari polimer karet.
Setelah zat pemanis dan perasa diserap tubuh, sisa bahan karetnya akan dikeluarkan begitu saja bersama kotoran, sama seperti makanan lain yang tidak bisa dicerna. Jadi, tidak butuh waktu 7 tahun, tapi hanya waktu pencernaan biasa.
Meski begitu, menelan permen karet dalam jumlah banyak tetap berisiko karena bisa menyumbat saluran pencernaan, apalagi jika bercampur dengan benda asing lain seperti koin atau mainan kecil.
10. Antibiotik untuk Obat Flu dan Pilek
Setiap musim flu atau pilek tiba, masih banyak orang yang meminta antibiotik, percaya obat ini bisa menyembuhkan penyakitnya. Padahal, antibiotik dirancang khusus untuk membunuh bakteri, bukan virus.
Pilek, flu, dan penyakit sejenis lainnya disebabkan oleh virus, sehingga antibiotik sama sekali tidak mempan. Lebih berbahaya lagi, penggunaan antibiotik yang tidak tepat justru membuat bakteri alami di dalam tubuh menjadi kebal, menciptakan apa yang disebut "bakteri super" yang sulit diobati nantinya.
Data CDC menunjukkan jutaan resep antibiotik ditulis setiap tahun untuk penyakit yang sebenarnya disebabkan virus, baik karena kesalahan diagnosis maupun permintaan pasien. Padahal, hal ini justru merugikan kesehatan jangka panjang.
(dem/dem) Add
source on Google