Tega, Hacker China Curi US$20 Juta Dana Bantuan Covid Amerika

Tech - Demis Rizky Gosta, CNBC Indonesia
07 December 2022 08:45
BEIJING, CHINA - DECEMBER 04: People line up in the cold for nucleic acid tests to detect COVID-19 at a public testing site on December 4, 2022 in Beijing, China. As part of a recent relaxing of COVID-19 control measures, the Beijing government announced that people would no longer need proof of a 48 hour negative COVID-19 test to ride public transit as of December 5. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Foto: Getty Images/Kevin Frayer

Jakarta, CNBC Indonesia - Hacker asal China mencuri dana bantuan Covid-19 Amerika Serikat. Peretasan yang berlangsung sejak 2020 tersebut dikabarkan berhasil merampok dana senilai US$20 juta.

NBC News melaporkan bahwa kelompok hacker yang berbasis di Chengdu, China dan dikenal sebagai APT41 meretas sistem informasi pinjaman UKM dan asuransi pengangguran di lusinan negara bagian Amerika Serikat.

Pertasan oleh APT41 adalah sebagian dari aksi penjahat siber yang mengincar dana bantuan Covid-19 di Amerika Serikat. Inspektur Jenderal Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan 20% dari pembayaran dana pengangguran AS yang mencapai US$872,5 miliar dinilai tidak layak.

Penipuan pencairan dana Covid yang terkait hacker China berlangsung mulai 2020 dengan memanfaatkan 2.000 akun yang secara total terlibat dalam 40.000 transaksi finansial.

Dinas Rahasia, badan di bawah Departemen Keuangan AS yang bertanggung jawab atas pengamanan Presiden AS dan kejahatan terkait mata uang, menyatakan berhasil mengembalikan setengah dari dana senilai US$20 juta yang dicuri APT41.

Menurut Reuters, APT41 tidak hanya melakukan kejahatan siber dengan motif finansial. Grup ini juga diketahui melakukan peretasan untuk kepentingan pemerintah China. 

Beberapa anggota dari APT41 telah ditetapkan sebagai tersangka pada 2019 dan 2020 oleh Departemen Kehakiman AS atas tindakan mata-mata di 100 perusahaan yang terdiri dari perusahaan software, telekomunikasi, media sosial, dan pengembang video game.

"Sangat disayangkan, Partai Komunis China memilih cara yang berbeda untuk membuat China aman dari kriminal siber, selama mereka menyerang komputer di luar China dan mencuri properti intelektual yang bisa membantu China," kata Deputi Jaksa Agung AS pada saat itu.


[Gambas:Video CNBC]

(dem)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading