Economic Update 2022

BI Sampaikan Kabar Terkini Rupiah Digital, Terbit 2023?

Tech - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
12 August 2022 15:10
Deputi Gubernur BI Ungkap Intervensi BI Tangkal Depresiasi Rupiah(CNBC Indonesia TV) Foto: Deputi Gubernur BI Ungkap Intervensi BI Tangkal Depresiasi Rupiah(CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Central Bank Digital Currency (CBDC) alias 'rupiah digital' semakin dinanti kehadirannya oleh banyak orang, agar semakin berdaulat sebagai alat pembayaran di dunia maya. Kapan terbitnya?

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menjelaskan saat ini otoritas moneter masih terus melakukan eksplorasi dan memvalidasi terhadap rupiah digital.

Pasalnya kata Dody secara global, rupiah digital masih terus dibahas di dalam forum-forum resmi bank sentral, terutama forum G20. Semua negara masih terus mengembangkan CBDC ini dan masih belum ada keseragaman. Karena diharapkan CBDC bisa membantu masyarakat untuk menciptakan sistem pembayaran yang aman, cepat, transparan, dan murah.

"Pengembangan CBDC secara global belum seragam, sangat berdasarkan terhadap kebutuhan masing-masing negara. Konsepnya masih belum kita menuju pada satu pilihan. Pilihan teknologinya juga belum pada kesamaan dan timingnya," jelas Dody dalam Economic Update CNBC Indonesia, Jumat (12/8/2022).

"Di Bank Indonesia sendiri terus melakukan eksplorasi dan konteks validasi terhadap CBDC ini," kata Dody melanjutkan.



Pun jika nanti CBDC alias rupiah digital ini hadir dan diimplementasikan di Indonesia, BI memastikan operasionalnya tidak akan mengganggu stabilitas moneter dan keuangan di dalam negeri, termasuk perbankan.

"Kita harus memastikan dan kita harus meyakini CBDC terhadap stabilitas moneter dan keuangan ini minimal, ini menjadi penting. Artinya CBDC tidak membentuk instabilitas di dua sektor tadi," jelas Dody.

Dari sisi operasionalnya, BI juga akan mengupayakan agar rupiah digital bisa terjangkau oleh masyarakat. Oleh karena itu, sebagai otoritas moneter akan melakukan dengan cermat dari sisi persiapannya.

Penerbitan mata uang digital bank sentral ini perlu disiapkan dengan berhati-hati untuk memaksimalkan peluang yang bisa ditawarkan sambil mitigasi potensi risiko yang mungkin terjadi.

"Jangan sampai kehadiran CBDC justru mengganggu konteks perbankan, konteks perekonomian secara keseluruhan. Ini masih tahapan untuk memastikan operasionalnya nanti, selain dampaknya matang kita share nanti dalam tahap implementasi," jelas Dody.




Sebelumnya dalam seminar bertajuk 'Digital Currency' yang merupakan serangkaian 3rd Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Nusa Dua, Bali, Selasa (12/7/2022), Deputi Gubernur Bank Indonesia Doni P Joewono menjelaskan ada 6 aspek tujuan dalam pengembangan digital rupiah.

Pertama adalah menyiapkan CBDC sebagai alat pembayaran digital yang bebas risiko. Kedua, memitigasi risiko mata uang digital. Tujuan ketiga, memperluas efisiensi dan mengurangi tahapan sistem pembayaran termasuk pembayaran lintas negara.

Adapun tujuan keempat adalah memperluas dan mempercepat inklusi keuangan. Kelima, menyediakan CBDC sebagai instrumen kebijakan moneter baru. Keenam, menjadikan CBDC agar menjadi bagian fasilitas distribusi subsidi fiskal.

Doni juga menjelaskan penerbitan CBDC harus memenuhi tiga prasyarat. Pertama, desain CBDC tidak boleh mengganggu stabilitas moneter dan sistem keuangan. Prasyarat kedua, desain CBDC ini harus terintegrasi, interkoneksi, dan bisa dioperasikan lintas gawai. Adapun prasyarat yang ketiga, CBDC harus bisa digunakan dan diimplementasikan dengan teknologi blockchain.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BI Bakal Terbitkan Rupiah Digital, Bisa Buat Apa Saja?


(cap/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading