Rusia-China Dominasi Reaktor Nuklir Dunia, Berbahayakah?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
05 July 2022 16:00
Reaktor Nuklir (Image by adege from Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia dan China dilaporkan mendominasi sektor reaktor nuklir. Namun kedua negara itu masih bisa dikalahkan oleh pihak lain.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol mengatakan desain Rusia dan China mendominasi reaktor nuklir baru sejak 2017. Jumlahnya mencapai 87% reaktor baru.

"Ekonomi maju telah kehilangan kepemimpinan pasar, karena 27 dari 31 reaktor yang dibangun sejak 2017 adalah desain Rusia atau China," kata Birol dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (5/7/2022).


Tenaga nuklir berpeluang menjadi komponen utama pasar energi bersih. Apalagi saat dunia sadar adanya dampak dari perubahan iklim. Sebagai informasi pembangkit listrik tenaga nuklir tidak mengeluarkan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Perang Rusia-Ukraina, di sisi lain, juga berkontribusi pada kenaikan harga bahan bakar fosil yang menyebabkan tenaga nuklir mulai dilirik.

"Dalam konteks krisis energi global saat ini, melonjaknya harga bahan bakar fosil, tantangan keamanan energi dan komitmen iklim yang ambisius, saya percaya tenaga nuklir punya peluang unik untuk kembali bangkit," jelasnya.

Reaktor Nuklir (Image by Ben Kerckx from Pixabay)Foto: Reaktor Nuklir (Image by Ben Kerckx from Pixabay)

Namun IEA menyebutkan untuk bisa menjadi pemain dominan dalam energi bersih, dibutuhkan tindakan dan fokus bersama dari pemerintah dan industri swasta. Sayangnya hal ini belum terjadi sekarang.

Sementara itu Birol mengatakan pemerintah harus melakukan beberapa hal terkait pembangkit nuklir. Dari kebijakan untuk memastikan operasi pembangkit nuklir yang aman dan berkelanjutan serta berinvestasi pada teknologi baru.

Operasi nuklir Rusia dan China bukan tak bisa dikalahkan. Namun Birol menyebutkan perusahaan harus menjadi lebih baik saat memberikan proyek konstruksi nuklir tepat waktu serta sesuai anggaran.

"Industri nuklir harus segera mengatasi masalah pembengkakan biaya dan penundaan proyek yang telah mengganggu pembangunan pembangkit baru di negara maju," kata Birol.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Amerika Terbangkan 'Pesawat Kiamat', Siap Lawan Rusia?


(npb/roy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading