Tunggak Listrik Rp 17,9 M, Server Penambang Bitcoin Dimatikan

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
04 July 2022 15:55
Area pabrik kertas di Quebec, Kanada 'disulap' menjadi pusat penambangan mata uang kripto (cryptocurrency) di tengah tren Bitcoin. (dok. REUTERS/Christinne Muschi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Server penambang kripto di Maine, Amerika Serikat harus ditutup karena tidak membayar listrik. Dilaporkan besarannya mencapai US$1,2 juta (Rp 17,9 miliar) dan hanya sekitar setengah baru dibayarkan selama 6 bulan terakhir.

Compass Mining merupakan perusahaan hosting Bitcoin yang menawarkan layanan penambangan terkelola kepada para penambang. Pelanggan bisa membeli penambang ASIC (sirkuit terintegrasi untuk aplikasi spesifik) dari situs web Compass dan memasangnya di salah satunya.

Klien salah satu fasilitas dimiliki oleh Dynamic Mining, dikabarkan gagal bayar listrik. Pada akhirnya, perusahaan itu mengumumkan menyetop server yang disewa oleh Compass Mining, dikutip dari Cryptoslate, Senin (4/7/2022).


Fasilitas tersebut mengklaim menggunakan 100% tenaga terbarukan dan netral karbon. Jadi kemungkinan biaya listrik lokal Maine, yang tarifnya paling tinggi di antara negara bagian lain di Amerika Serikat, tidak berlaku.

Sementara itu, menurut seorang pengguna Twitter menyatakan server Discord Compass Mining telah dinonaktifkan. Namun tidak diketahui fasilitas lainnya terpengaruh atau tidak karena hal tersebut.

"Dalam keadaan darurat, sebagaimana ditentukan Compass atau Hosting Facility dan atau Hosting Facility bisa mengatur ulang, menghapus, atau merelokasi Customer Hardware tanpa kewajiban apapun pada Compass," tulis perjanjian itu.

Perjanjian juga berisi klausa class action artinya jika ada yang mau mengajukan gugatan pada Compass Mining harus dilakukan secara individu dan biaya yang besar.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pasar 'Kebakaran', Investasi Aset Kripto Masih Menarik?


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading