Inovasi Bitcoin El Salvador Berakhir Buruk

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
27 June 2022 20:10
People walk by a Bitcoin sign during a meet up between local bitcoin users and foreigners at the closing of Adopting Bitcoin - A Lightning Summit, at El Zonte Beach, in Chiltiupan, El Salvador November 18, 2021. REUTERS/Jose Cabezas

Jakarta, CNBC Indonesia - El Salvador ternyata tak bisa mempertahankan inovasi Bitcoin dalam negerinya. Ekonomi dalam negerinya menjadi pertaruhan dan tidak membuahkan hasil yang baik.

El Salvador menjadi negara pertama menjadikan Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah pada pertengahan tahun lalu.

CNBC Internasional mencatat kas kripto pemerintah telah dipotong setengahnya, adopsi Bitcoin juga tidak benar-benar lepas landas, dan negara membutuhkan banyak uang tunai.


Ini dilakukan untuk memenuhi pembayaran utang US$1 miliar di tahun depan. Semua terjadi karena harga Bitcoin anjlok lebih dari 70% dari puncaknya pada November 2021 dan lebih dari 55% sejak Presiden Nayib Bukulele mengungkapkan rencana untuk negaranya.

Saat pertumbuhan ekonomi El Salvador ambles, defisitnya tetap tinggi dan rasio utang pada PDB mencapai 87% tahun ini. CNBC Internasional mencatat hal tersebut memicu El Salvador tidak siap untuk menyelesaikan kewajiban pada pinjamannya.

Representation of the Bitcoin virtual currency standing on the PC motherboard is seen in this illustration picture, February 3, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/IllustrationFoto: Bitcoin (REUTERS/Dado Ruvic)

"Di permukaan, seluruh masalah Bitcoin belum benar-benar terbayar," kata analis data fintech, Boaz Sobrado, dikutip Senin (27/6/2022).

Pemerintah memiliki kerugian kertas yang belum direalisasi pada Bitcoin sekitar US$50 juta. Sementara menurut perkiraan, secara agregat seluruh eksperimen hanya menjalankan US$374 juta.

Negosiasi dengan pinjaman internasional juga terhenti. Sebab mereka tidak mau membuang uang ke negara yang menghabiskan jutaa dolar pajak untuk kripto dengan harga yang rentan.

Sementara menurut lembaga rating, termasuk Flitch, menurunkan skor kredit El Salvador. Alasannya karena ketidakpastian masa depan keuangan negara.

"Dalam hal situasi keuangan mereka, El Salvador berada di tempat yang sangat sulit. Mereka punya banyak obligasi yang diperdagangkan dengan diskon besar-besaran," jelas Sobrado.

Peneliti kebijakan di London School of Economics, Frank Muci mengatakan kebijakan ekonomi negara adalah pemikiran magis. Dia menambahkan tidak ada yang mau meminjamkan uang ke negara itu, kecuali adanya tarif 20% hingga 25%.

"Negara ini sedang berjalan menuju default utang," kata Muci.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jangan Kaget! Pengguna Kripto Diprediksi Tembus 1 Miliar


(npb/roy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading