Hary Tanoe: Tsunami PHK Tanda Akhir Masa Emas Startup

Tech - Redaksi, CNBC Indonesia
02 June 2022 11:40
Hary Tanoe & Lo Kheng Hong/Istimewa Foto: Hary Tanoe & Lo Kheng Hong/Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia startup sedang dibayangi oleh langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diambil oleh beberapa perusahaan. Menurut pengusaha nasional Hary Tanoesoedibjo, kondisi sekarang menandakan akhir dari masa keemasan startup.

"The golden days of startup are already over," kata Hary Tanoe dalam post di akun Instragramnya, dikutip Kamis (2/6/2022). Artinya, "hari-hari keemasan startup sudah berakhir".

Menurut Hary Tanoe, gaya bisnis startup yang mengedepankan pertumbuhan dengan arus kas negatif tidak akan bisa bertahan. Pada akhirnya, bisnis yang sehat harus punya arus kas yang positif.


Dia menyorot model bisnis startup yang sepenuhnya bergantung kepada dana investor. Modal mereka kemudian dihabiskan untuk segala bentuk promosi dan pemasaran demi menggaet pengguna, yang dikenal dengan "bakar duit".

Bagi Hary Tanoe, bisnis tidak bisa terus-terusan berharap suntikan modal baru terus datang untuk mendanai ekspansi mereka. Subsidi ke konsumen, hanya merupakan cara untuk meningkatkan penguasaan pasar, yang kemudian menjadi fondasi bisnis yang sehat.

Sebagai bos grup konglomerasi media, Hary Tanoe sebetulnya juga merupakan investor di perusahaan berbasis digital. PT MNC Vision Networks Tbk. menginvestasikan US$40 juta di Migo Indonesia, perusahaan penyedia konten digital yang bisa diakeses tanpa jaringan internet. Pengguna Migo bisa mengunduh konten yang ingin mereka saksikan di titik tertentu yang diberi nama Warung Migo, untuk ditonton kemudian.

Sebelumnya, CEO Mandiri Capital, Eddi Danusaputro, mengatakan valuasi yang ada pada startup dinilai terlalu berlebihan. Hal ini ia sebut ketika menjawab pertanyaan di program Profit CNBC Indonesia, Senin (30/5/2022), mengenai bubble burst yang terjadi pada perusahaan rintisan atau startup.

"Bubble dari sisi apa? dari sisi valuation, saya enggak mau menyebut bubble burst atau apalah itu, tapi lebih kepada dari kacamata kami para investor," ujarnya.

Ia menilai dalam beberapa tahun terakhir, valuasi yang terjadi memang terlampau tinggi tinggi. Kini, valuasi tersebut merosot tajam. Adanya pengetatan likuiditas, imbuhnya, justru membuat valuasi startup lebih masuk akal.

"Karena buat kami, para investor terutama yang punya dana nganggur, punya ready cash, berarti kami bisa investasi ke perusahaan yang valuasinya lebih masuk akal, dan untuk long term itu lebih sehat untuk startup nya," tuturnya.

Menurut Eddi, saat ini yang dibutuhkan bukan seberapa lagi besar valuasi, tetapi value yang dimiliki startup itu sendiri. Saat valuasi menjadi tujuan utama, semua startup berlomba menjadi unicorn padahal profit seharusnya menjadi fokus utama perusahaan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Taipan, Investor Gojek, hingga Eks Menteri Bicara PHK Startup


(dem/dem)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading