Apa Itu Starlink, Satelit SpaceX yang Jadi Perhatian China

Tech - Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
27 May 2022 15:15
In this view from Playalinda Beach at Canaveral National Seashore, visitors watch a Falcon 9 SpaceX rocket with a payload of approximately 60 satellites for SpaceX's Starlink broadband network lift off from Space Launch Complex 40 at the Cape Canaveral Air Force Station in Cape Canaveral, Fla., Wednesday, Jan. 29, 2020.  (Joe Burbank/Orlando Sentinel via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Satelit Starlink SpaceX disebut bisa dimatikan atau dihancurkan oleh China jika mengancam keamanan nasional negara tersebut.

Skala, kompleksitas, dan fleksibilitas Starlink yang belum pernah terjadi sebelumnya, disebut akan memaksa militer China untuk mengembangkan kemampuan anti-satelit baru.

Menurut sebuah makalah yang diterbitkan bulan lalu, China perlu mengembangkan kemampuan anti-satelit, termasuk sistem pengawasan dengan skala dan sensitivitas untuk melacak dan memantau setiap satelit Starlink.


Studi ini dipimpin oleh Ren Yuanzhen, seorang peneliti di Institut Pelacakan dan Telekomunikasi Beijing di bawah Pasukan Dukungan Strategis PLA.

"Kombinasi metode pembunuhan lunak dan keras harus diadopsi untuk membuat beberapa satelit Starlink kehilangan fungsinya dan menghancurkan sistem operasi konstelasi," kata makalah tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal domestik Modern Defense Technology, dikutip dari South China Morning Post, Jumat (27/5/2022).

Lalu, apa itu proyek satelit Starlink?

Starlink merupakan proyek ambisius SpaceX untuk membangun jaringan internet yang saling terhubung dengan ribuan satelit. Tujuannya untuk memberikan internet berkecepatan tinggi kepada konsumen di bagian mana pun planet Bumi.

Starlink menjanjikan internet dengan kecepatan 100/200 megabit per detik (Mbps) untuk pengguna individu.

SpaceX mengatakan kepada regulator federal dalam presentasi pekan lalu bahwa layanan Starlink sekarang memiliki lebih dari 400.000 pelanggan di seluruh dunia.

SpaceX Luncurkan Misi Starlink ke-10Foto: SpaceX Luncurkan Misi Starlink ke-10 (doc. Ist)

Pengungkapan tersebut menunjukkan perusahaan terus menumbuhkan pelanggan untuk layanan tersebut, yang dimulai pada Oktober 2020.

Dua bulan lalu, Starlink mengatakan memiliki sekitar 250.000 pelanggan. Pada awal tahun ini, dikatakan memiliki sekitar 145.000 pelanggan. Angka-angka tersebut mencakup konsumen individu dan bisnis, demikian dikutip dari CNBC Internasional.

Proyek ini menuai banyak respon, termasuk kritik dari NASA. Badan penerbangan AS itu melemparkan kritik tentang rencana SpaceX menyebarkan sekitar 30.000 satelit untuk proyek Starlink-nya.

SpaceX milik Elon Musk itu sebelumnya menerima otorisasi meluncurkan sekitar 12.000 satelit yang menawarkan internet broadband dan telah meminta tambahan ijin untuk meluncurkan tambahan generasi kedua sekitar 30.000 satelit.

"NASA memiliki kekhawatiran dengan potensi peningkatan yang signifikan dalam frekuensi konjungsi dan kemungkinan dampak pada misi luar angkasa manusia dan sains NASA," tulis badan antariksa tersebut kepada Komisi Komunikasi Federal, dikutip dari Reuters, beberapa waktu lalu.

NASA mencatat saat ini ada 25.000 total objek yang dilacak di orbit, dan ada sekitar 6.100 di bawah 600 km.

Ekspansi generasi kedua yang diminta SpaceX, kata NASA, akan menambah lebih dari dua kali lipat jumlah objek yang dilacak di orbit dan meningkatkan jumlah objek di bawah 600 km lebih dari lima kali lipat.

Ahli astrofisika Harvard-Smithsonian Jonathan McDowell, bagian dari panel American Astronomical Society yang memeriksa dampak satelit pada astronomi menyatakan keprihatinan dengan banyaknya satelit yang mengganggu pengamatan astronomi.

"Saya pikir kita perlu sedikit lebih banyak pengalaman dengan beberapa ribu satelit yang beroperasi sebelum kami dapat meningkatkan hingga puluhan ribu." ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Satelit Internet Elon Musk Bantu Ukraina, Muncul Ancaman Ini


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading