Gegara Hal Ini, Twitter Kena Bayar Denda Rp 2,1 T

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
26 May 2022 14:30
FILE PHOTO: A 3D-printed logo for Twitter is seen in this picture illustration made in Zenica, Bosnia and Herzegovina on January 26, 2016.  REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Twitter dituding menyalahgunakan informasi pribadi seperti nomor telepon sebagai target iklan. Atas tuduhan itu, perusahaan didenda US$ 150 juta atau Rp 2,1 triliun (dalam kurs Rupiah)

Reuters, mengutip dokumen pengadilan mengatakan Twitter mengatakan informasi pribadi itu digunakan sebagai alasan keamanan. Data pengguna itu pada periode Mei 2013 hingga September 2019, dikutip dari Reuters, Kamis (26/5/2022).

Selain setuju membayar denda, Twitter juga diharuskan meningkatkan praktik kepatuhan perusahaan. Kekeliruan itu melanggar Undang-undang FTC dan 2011 settlement.


"Secara khusus, Twitter menyatakan kepada pengguna mengumpulkan nomor telepon dan email untuk mengamankan akun mereka, Twitter gagal mengungkapkan itu juga menggunakan informasi kontak pengguna untuk membantu pengiklan menjangkau audiens pilihan mereka," kata keluhan tersebut.

Twitter juga telah berkomentar terkait penyelesaian tersebut. Kepala privasi Twitter, Damien Kiera mengatakan pihaknya telah menyamakan pembaruan operasional dan peningkatan program dengan agensi untuk melindungi privasi dan keamanan pengguna.

Twitter merupakan layanan jejaring sosial yang bisa diakses secara gratis. Perusahaan menghasilkan uang, sebagian besar melalui iklan.

Dari data pejabat AS, terungkap US$3 miliar dari pendapatan Twitter US$3,4 miliar tahun 2019 berasal dari iklan. Tahun lalu perusahaan mendapatkan pendapatan US$5 miliar.

Ketua FTC Lina Khan mengatakan praktik penggunaan data itu meningkatkan pendapatan utama dari Twitter. "Praktik ini mempengaruhi lebih dari 140 juta pengguna Twitter, sekaligus meningkatkan sumber pendapatan utama Twitter," jelasnya.

Dalam pengaduan tersebut, Twitter juga dituding tidak mematuhi aturan Uni Eropa-AS dan Swiss-AS soal Kerangka Kerja Perlindungan Privasi. Ini mengatur soal larangan perusahaan menggunakan data yang tidak diizinkan oleh konsumen.

Sementara itu, Elon Musk, yang juga membeli Twitter senilai US$44 miliar, mengkritik model bisnis yang digerakan oleh iklan. Dia juga menjanjikan diversifikasi sumber pendapatan.

Dia juga mengomentari praktik iklan perusahaan dan soal denda dalam akun Twitternya. "Jika Twitter tidak jujur di sini, apalagi yang tidak benar? Ini berita yang sangat memprihatikan".


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Karyawan Twitter Panik, Khawatir Dipimpin Elon Musk


(npb/npb)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading