Gunung Berapi Bawah Laut Ini Bisa Ciptakan Bencana Terhebat

Tech - Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
13 May 2022 09:55
Lapisan es Antartika di bagian Timur runtuh akibat pemanasan ekstrem yang terjadi di wilayah tersebut. (NASA via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung berapi dapat ditemukan bahkan di lepas pantai Antartika sekalipun.

Menurut pantauan dari Pusat Penelitian Geosains Jerman GFZ di Potsdam, ditemukan aktivitas sebuah gunung berapi bawah laut yang lama tidak aktif, telah terbangun dan memicu 85.000 kali gempa bumi. Puluhan ribu gempa itu mencapai proporsi yang sebelumnya belum pernah terjadi di wilayah tersebut.

Dipimpin oleh Simone Cesca dari German Research Center for Geosciences (GFZ) Potsdam, peneliti dari Jerman, Italia, Polandia dan Amerika Serikat terlibat dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth and Environment.


Dengan aplikasi gabungan teknik seismologi, geodesi dan penginderaan jauh, mereka dapat menentukan bagaimana perpindahan cepat magma dari mantel bumi di dekat batas kerak-mantel ke hampir permukaan menyebabkan swarm quake.

Peneliti menjelaskan, padamasa lalu, kegempaan di wilayah ini sedang. Namun, pada Agustus 2020, gelombang seismik yang intens dimulai di sana, dengan lebih dari 85.000 gempa dalam waktu setengah tahun.

"Ini merupakan kejadian seismik terbesar yang pernah tercatat di sana," kata Simone Cesca, ilmuwan di GFZ's Section 2.1 Earthquake and Volcano Physics, demikian dikutip dari Sciencedaily, Jumat (13/5/2022).

Para ilmuwan mengidentifikasi intrusi magma, migrasi volume magma yang lebih besar, sebagai penyebab utama gempa. Karena proses seismik saja tidak dapat menjelaskan deformasi permukaan kuat yang teramati di Pulau King George. Kehadiran intrusi magma volumetrik dapat dikonfirmasi secara independen berdasarkan data geodetik.

Dua gempa bumi terbesar dalam rangkaian tersebut adalah gempa berkekuatan 5,9 pada Oktober 2020 dan gempa berkekuatan 6,0 pada November. Kegempaan menurun tiba-tiba pada pertengahan November, setelah sekitar tiga bulan aktivitas berkelanjutan.

Berakhirnya swarm dapat dijelaskan dengan hilangnya tekanan pada magma dike, yang menyertai selip dari patahan besar, dan dapat menandai waktu terjadinya erupsi dasar laut yang sampai saat ini belum dapat dikonfirmasi oleh data lain.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Alert! Gumpalan Batu Bawah Tanah Picu Letusan Gunung Berapi


(Intan Rakhmayanti Dewi/dem)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading