Terbaru! Efektivitas Vaksin Covid-19 Lemah di Orang Ini

Tech - Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
09 May 2022 07:40
A worker in a protective suit holds a health QR code next to a line of people waiting for a nucleic acid test at a mass testing site for the coronavirus disease (COVID-19) amid the outbreak, during the Labour Day holiday in Beijing, China May 1, 2022. REUTERS/Alessandro Diviggiano

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi terbaru menyebut obesitas dapat menurunkan efektivitas vaksin COVID-19 pada orang yang belum pernah terpapar virus Corona.

Dalam penelitian di Turki tersebut, dilakukan terhadap orang yang belum pernah terinfeksi SARS-CoV-2 sebelumnya dan telah menerima vaksin Pfizer dan Sinovac

Berdasarkan hasil yang dipresentasikan minggu ini di Kongres Eropa tentang Obesitas di Maastricht, Belanda, pada pengguna Pfizer ditemukan, orang dengan obesitas parah memiliki tingkat antibodi tiga kali lebih rendah daripada individu dengan berat badan normal.


Pada penerima Sinovac yang mengalami obesitas parah dan belum pernah terkena Covid-19, tingkat antibodi 27 kali lebih rendah dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal.

Para peneliti membandingkan respons imun terhadap vaksin pada 124 sukarelawan dengan obesitas parah - yang didefinisikan sebagai indeks massa tubuh 40 atau lebih tinggi - dan 166 individu dengan berat badan normal (BMI kurang dari 25).

Secara keseluruhan, 130 peserta telah menerima dua dosis vaksin mRNA Pfizer/BioNTech dan 160 telah menerima dua dosis vaksin virus tidak aktif Sinovac.

"[Vaksin Pfizer/BioNTech] dapat menghasilkan lebih banyak antibodi secara signifikan daripada CoronaVac pada orang dengan obesitas parah," kata pemimpin studi Volkan Demirhan Yumuk dari Universitas Istanbul, dikutip dari Reuters, Senin (9/5/2022).

Sementara itu, menurut temuan para peneliti di Afrika Selatan, infeksi dengan varian Omicron dari virus Corona dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan sistem kekebalan untuk melindungi dari varian lain, tetapi hanya pada orang yang telah divaksinasi.

Pada orang yang tidak divaksinasi, infeksi Omicron hanya memberikan perlindungan "terbatas" terhadap infeksi ulang. Pada 39 pasien yang memiliki infeksi Omicron - termasuk 15 yang telah diimunisasi dengan vaksin dari Pfizer/BioNTech atau Johnson & Johnson - para peneliti mengukur kemampuan sel kekebalan untuk menetralkan tidak hanya Omicron tetapi juga varian sebelumnya.

Rata-rata 23 hari setelah gejala Omicron dimulai, pasien yang tidak divaksinasi memiliki netralisasi 2,2 kali lipat lebih rendah dari versi pertama varian Omicron dibandingkan dengan orang yang divaksinasi, netralisasi 4,8 kali lipat lebih rendah dari subgaris Omicron kedua, netralisasi Delta 12 kali lipat lebih rendah, 9,6 kali lipat netralisasi varian Beta lebih rendah, dan 17,9 kali lipat netralisasi lebih rendah dari strain SARS-CoV-2 asli.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sering Diabaikan! Ini 3 Gejala Tak Biasa Covid Varian Omicron


(Intan Rakhmayanti Dewi/dem)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading