Suhu Tempat Terdingin di Bumi Naik 70 Derajat, Tanda apa Ini?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
29 March 2022 16:00
Lapisan es Antartika di bagian Timur runtuh akibat pemanasan ekstrem yang terjadi di wilayah tersebut. (NASA via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas menghantam Antartika yang membuat para ilmuwan terkejut. Bahkan menurut mereka, lonjakan suhu di wilayah itu bisa menjadi rekor dunia.

Suhu di stasiun Concordia Research di Dome C di Dataran Tinggi Antartika melonjak hingga 11,3 derajat fahrenheit atau minus 11,5 derajat celcius pada 18 Maret 2022 lalu. Stasiun tersebut dikenal sebagai tempat paling dingin di Bumi.

Biasanya suhu di Concordia adalah sekitar minus 56 fahrenheit atau minus 49 derajat Celcius. Dengan begitu suhu tanggal 18 Maret lebih hangat hingga 70 derajat Fahrenheit (sekitar 38 derajat celcius) dari biasanya.


"Tampaknya telah menetapkan Rekor Dunia baru untuk kelebihan suhu terbesar di atas normal yang pernah diukur pada stasiun cuaca yang mapan," ungkap Robert Rohde yang merupakan ilmuwan utama di Berkeley Earth dalam tweetnya, dikutip dari CNN Internasional, Selasa (29/3/2022).

Sementara itu Randall Cerveny yang merupakan pelapor Catatan Ekstrem untuk Organisasi Meteorologi Dunia mengatakan rekor semacam ini bukan sesuatu yang bisa dilacak atau verifikasi oleh lembaga itu. Namun pengamatan di Dome C menurutnya sesuatu yang sah.

"Segala sesuatu yang saya pribadi telah lihat mengenai pengamatan Dome C menunjukkan adalah pengamatan yang sah," kata Cerveny yang juga merupakan profesor ilmu geografi di Arizona State University.

Suhu di Concordia merupakan rekor suhu tertinggi pada Maret serta rekor absolut di setiap bulannya. Ini diungkapkan oleh ahli meteorologi di Meteo France, Etienne Kapikian.

Bukan hanya Concordia, Vostok juga mencatat kenaikan suhu wilayahnya. Basis penelitian yang terkenal karena mencatat suhu terdingin di dunia juga melaporkan 63 derajat lebih hangat dari rata-ratanya, dan memecahkan rekor stasiun sebelumnya untuk Maret hampir 27 derajat.

Fakta ini, menurut Cerveny nampaknya dipicu oleh peristiwa yang tidak biasa. "Jelas serangkaian peristiwa meteorologi yang sangat menarik dan tidak biasa memicu peristiwa ini," ujarnya.

Cerveny menambahkan terdapat arus lembab dari sungai atmosfer, badai menarik sebagian besar uap air laut ke daratan. Selain itu terdapat pula intrusi udara sangat panas ke dataran tinggi Antartika.

Lonjakan suhu tersebut juga kemungkinan akibat adanya uap air yang menjebak udara panas.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Duh! Gletser Terbesar di Kutub Selatan Mencair, Ini Dampaknya


(npb/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading