Ada Biaya Tersembunyi di Balik Penjualan NFT, Sudah Tahu?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
18 January 2022 07:45
NFT

Jakarta, CNBC Indonesia - Non-fungible Tokken (NFT) mendadak jadi tren di Indonesia. Salah satunya karena keberhasilan seorang pemuda bernama Ghazali yang menjual foto dirinya bernilai miliaran rupiah dalam bentuk aset digital itu.

Ini membuat banyak masyarakat yang penasaran dengan NFT. Ada beberapa diantara mereka yang mencoba untuk memasarkan langsung barang-barang di platform NFT bernama OpenSea.

Namun ternyata menjual NFT tak semudah yang dibayangkan. Selain menyiapkan obyek yang akan dijual, harus mengerti ada biaya tambahan untuk dapat menjual aset digital tersebut.


Jika tertarik menjual NFT, kamu perlu tahu soal biaya-biaya tersembunyi di balik penjualan NFT tersebut. Berikut daftarnya, dirangkum CNBC Indonesia dari berbagai sumber, Selasa (18/1/2022).

Gas Fee

Pertama adalah Gas Dee yang merupakan biaya pengeluaran pengguna untuk mengkompensasi energi komputasi saat memproses dan memvalidasi transaksi pada Blockchain Ethereum.

Melansir Investorpedia, biaya tersebut dikeluarkan saat minting smart contract pada Blockchain. Semakin ccepat prosesnya maka makin tinggi biaya yang harus dibayarkan pada marketplace NFT serta jaringan kripto.

Di biaya ini, ukuran yang dugunakan adalah GWEI. Satu GWEI sama dengan 0,000000001 Ethereum dan maksimalnya adalah 21.000 GWEI atau 0,000021 Ethereum.

Biaya Transaksi NFT

Biaya tambahan lain adalah yang ditetapkan oleh platform marketplace. Misalnya OpenSea membebankan biaya awal untuk menginisiasi akun senilai US$70-US$300 dan akses ke NFT sekitar US$10-US$30. Ada tambahan 2,5% dari harga produk saat terjual.

Di Foundation, biaya tambahan awal berkisar US$120-US$400. Adapula biaya sebesar 15% dari harga jual awal sebagai biaya layanan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Gampang! Begini Cara Jual Beli Karya NFT Lewat OpenSea


(npb/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading