Suhu di Alaska Pecah Rekor Tertinggi, Ini Bahayanya Bagi Bumi

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
30 December 2021 09:35
Ice coats a cave in the Eagle Glacier on Sunday, Feb. 14, 2021, in Juneau, Alaska. The glacier is remote, and one way to access it involves a 5.5 mile hike on a rugged trail to a public use cabin followed by lake crossings. (AP Photo/Becky Bohrer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Suhu di Alaska baru-baru ini memecahkan suhu tertinggi. Pada hari Minggu (26/12/2021) Kodiak mencatatkan suhu mencapai 67 derajat farenheit atau 19,4 derajat celcius.

Alaska juga tercatat memanas lebih cepat dibandingkan negara bagian AS lain. National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA) juga menyebutkan suhu Alaska memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global, dikutip Daily Mail, Kamis (30/12/2021).

Kenaikan suhu Alaska sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Alaska's Changing Environment mencatat sejak 2014 terjadi 5-30 kali lebih banyak rekor suhu tinggi dibandingkan rekor terendah.


Kodiak juga bukan satu-satunya kota di Alaska yang mencatatkan rekor tertingginya. Coldbay, wilayah di Kepulauan Aleutian juga menembus 66 derajat farenheit atau melampaui tahun 1999 yakni 44 derajat farenheit.

Unalaska juga mengalami lonjakan 57,3 derajat farenheit (14 derajat celcius) pada Senin siang dan mencapai titik rendahnya 50 derajat farenheit (10 derajat celcius), demikian dilaporkan The Washington Post.

Sementara itu suhu yang lebih hangat dan lebih kering pada musim panas di Anchorage, kota terbesar di Alaska, memperpanjang musim kebakaran di seluruh negara bagian.

Dua tahun lalu lebih dari setengah kebakaran dimulai dari petir. Akibat perubahan iklim, para ahli memperkirakan kejadian ini akan lebih sering lagi nantinya.

Cuaca lebih tinggi ini disebabkan kubah bertekanan tinggi yang stagnan dan terjadi di tenggara Kepulauan Aleutian, Samudera Pasifik bagian Utara.

Kubah itu membuat hangat wilayah serta juga mengeluarkan curah hujan tidak biasa. Penyebabnya karena udara bisa menampung sekitar 4% lebih banyak air dari setiap derajat pemanasan.

Pada hari Minggu, penduduk Faribanks merasakan hujan 1,93 inci dan menjadi rekor terbasah bulan Desember kota tersebut.

Masalah ini akan terus berlanjut di masa depan. Menurut data pada akhir abad kemungkinan akan mengalami pemanasan sekitar 11-16 derajat Farenheit jika masyarakat tidak mengurangi efek gas rumah kaca.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kondisi Bumi Kian Mengerikan, Ini Bukti Terbarunya


(npb/npb)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading