Usai Kantor Cabang, Kini Giliran ATM yang Ditinggal Nasabah

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
28 December 2021 11:55
Warga mengambil ATM di kawasan Jakarta, Kamis (1/2/2018). CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Disrupsi digital dan pandemi Covid-19 ternyata telah menggeser kebiasaan nasabah dalam bertransaksi. Jika sebelumnya kantor cabang bank tak lagi jadi pilihan nasabah bertransaksi, ada kemungkinan hal yang sama juga terjadi pada mesin ATM.

Pandemi Covid-19 yang memaksa nasabah banyak bertransaksi melalui layanan digital seperti aplikasi mobile banking dan QR code. Alasannya praktis dan tak perlu melakukan sentuhan.

Hal ini terlihat di Bank Mandiri. Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Panji Irawan mengatakan itu terjadi di Bank Mandiri dan nasabah berpindah ke online.


"Tren menunjukkan behaviour tak lagi menggunakan ATM, nasabah nyaman menggunakan aplikasi online," ujar beberapa waktu lalu, seperti dikutip Selasa (28/12/2021).

Pada kuartal pertama 2021, transaksi di ATM sebesar Rp 200 triliun sementara aplikasi mencapai Rp 341 triliun. Layanan digital Bank Mandiri hadir lewat aplikasi Livin' By Mandiri.

BNI juga mencatat ada kenaikan transaksi lewat digital banking. Transaksi tersebut tercatat 98% dan sisanya melalui kantor cabang.

Selain itu hingga kuartal pertama 2021 pada segmen konsumen ada peningkatan pengguna mobile banking sebesar 58% dengan nilai transaksi meningkat 33%. Sementara frekuensi transaksi di segmen konsumer naik 50%.

Segmen korporasi melalui BNI Direct, tercatat ada peningkatan jumlah pengguna sebesar 24% dengan kenaikan nilai transaksi sebesar 22,7% dan frekuensi transaksi sebesar 140%.

"Artinya, penggunaan channel elektronik meningkat pesat untuk industri kita baik dari sisi konsumer maupun perusahaan. Kami melihat dari angka pertumbuhan sudah terjadi dan meningkat signifikan. Pandemi jelas mendorong, angka selama pandemi naik secara drastis," kata Direktur IT & Operasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Y.B Hariantono.

Dia mengatakan ini terjadi karena pandemi dan kemungkinan terus berlangsung meskipun pandemi sudah usai. "Kebiasaan orang sudah terbentuk, sudah menyukai channel ini, setelah pandemi kebiasaan orang akan tetap melakukan kebiasaan barunya, ini akan menjadi new habit. Sesuatu tren yang di-drive oleh pandemi," kata dia.

Hal serupa juga diakui oleh BCA. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan lebih dari 80% transaksi nasabah dilakukan digital dan transaksi ATM terus menurun. Di ATM transaksihanya 13% saja, ungkapnya.

Pertanda Transformasi Digital

Pengamat pasar modal dan perbankan, pengurangan jumlahkantor cabang dan mesin ATM jadi cerminan transformasi digital di perbankan Indonesia. "Kemajuan teknologi, consumer behaviour, persaingan yang ketat antarbank dan muncul ancaman baru dari 'bank-bank baru'," kata pengamat pasar modal, Rovandi.

Menurutnya tren bank digital bermunculan memang tidak bisa dielakkan. Khususnya ada kerja sama bersama platform pembayaran, seperti Gopay dan Ovo.

"Seperti Gopay, OVO, PayPal dan lainnya ini, maka penutupan kantor cabang dan ATM ini hanya cycle kecil dari transformasi digital yang ada di depan. Bank-bank besar saat ini jika tidak bertransformasi maka akan 'tergilas', tapi memang saat ini mereka [bank-bank besar] juga yang paling cepat beradaptasi kalau kita lihat," kata Rovandi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Nasabah Beralih ke Mobile Banking, 'Kiamat' ATM Segera Tiba?


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading