Alasan Ini Bikin BI Pede Rupiah Digital Tundukkan Kripto

Tech - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
02 December 2021 18:10
INFOGRAFIS, Top 5 Kripto Sepekan

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) meyakini penerbitan Central Bank Currency Digital (CBDC) alias rupiah digital bakal mampu memerangi aset kripto yang saat ini telah merajalela dijadikan instrumen investasi oleh masyarakat di Indonesia.

Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat, hingga akhir Mei 2021, jumlah investor aset kripto Indonesia mencapai 6,5 juta orang. Jumlah itu naik lebih dari 50% dari 2020 lalu yang baru 4 juta orang.


Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI yang juga merupakan Calon Deputi Gubernur BI, Juda Agung juga menilai, tidak seharusnya aset kripto dijadikan komoditi di Indonesia.

Aset kripto yang saat ini di bawah pengawasan Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), juga dinilai oleh Juda seharusnya bukan berada di ranah Bappebti. Karena hal ini sangat berdampak signifikan terhadap sistem keuangan.

"Yang menarik sekarang kripto di bawah Bappebti. Ini perlu kita kaji di dalam RUU P2SK, dan perlu dudukan dengan baik, artinya kripto as komoditi. Padahal implikasinya cukup signifikan pada sistem keuangan," tuturnya saat melakukan uji kelayakan bersama Komisi XI DPR, dikutip Kamis(2/12/2021).

"Menurut hemat kami, CBDC sebagai upaya mengatasi penggunaan cryptocurrency di dalam transaksi perekonomian," kata Juda melanjutkan.

Lantas apa yang dimaksud Juda rupiah digital bisa memerangi aset kripto? Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono saat berbincang eksklusif dengan CNBC Indonesia.

Erwin menjelaskan saat ini desain penerbitan CBDC masih terus dibahas oleh bank sentral, baik mengenai skema distribusi rupiah digital hingga desain penerbitan CBDC.

"Kita berbicara tentang desain-desain termasuk denominasi, dan sebagainya. Juga dengan pilihan-pilihan teknologinya, apakah kita mau memakai blockchain, distributed ledger technology (DLT), di mana uang itu kemudian seperti bitcoin yang sekarang," jelas Erwin.

"Atau tetap ada sentralitas di sana atau sentralitas di sana atau gabungan keduanya, karena diterbitkan bank sentral mungkin bisa pakai teknologi blockchain yang DLT, tapi tetap ada 'bandarnya' yaitu BI," kata Erwin melanjutkan.

Nah, persoalan yang terjadi saat ini, kata Erwin aset kripto menjadi instrumen investasi telah menjadi tren di kalangan anak muda dan cenderung naik terus.

Padahal, di beberapa kesempatan BI selalu mengingatkan bahwa aset kripto tidak aman untuk dijadikan investasi karena tidak ada underlying assetnya.

Oleh karena itu, lanjut Erwin, BI ingin memanfaatkan tren yang sedang 'hype' penggunaan teknologi ini, agar masyarakat bisa beralih kepada instrumen investasi yang lebih aman, yang diterbitkan oleh bank sentral.

"Kegandrungan kripto sekarang ketergantungan teknologinya yang sedang hype, yaitu penggunaan-penggunaan blockchain dan sebagainya. Makanya, bank sentral mulai exercise CBDC dengan platform yang serupa," jelasnya.

Dengan demikian, BI berharap para technology enthusiast yang memang sangat gandrung ke teknologi itu akan melihat ke CBDC.

"CBDC menawarkan hal yang sama dalam hal teknologi, tapi berbeda dengan hype anak muda sekarang ini. CBDC akan mengatasi cryptocurrency dalam pengertian dia menggunakan teknologi yang sama canggihnya," jelas Erwin.


[Gambas:Video CNBC]

(cap/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading