Kata Thailand Soal Warning WHO Campur Vaksin Covid-19

Tech - roy, CNBC Indonesia
13 July 2021 17:30
A helicopter carrying rescued schoolboys flies past a Thailand national flag in Chiang Rai, Thailand, July 9, 2018. REUTERS/Tyrone Siu

Jakarta, CNBC Indonesia - Thailand membela keputusannya mencampurkan vaksin Covid-19 berbeda untuk memerangi lonjakan infeksi Covid-19, meski ilmuwan WHO mengatakan keputusan itu sebagai "tren berbahaya" yang tidak didukung bukti.

Kepala virolog Thailand Yong Poovorawan mengatakan ini penggabungan ini mungkin antara vaksin virus yang tidak aktif seperti milik Sinovac dengan vaksin vektor virus seperti AstraZeneca.

"Kami tidak bisa menunggu 12 minggu (untuk efek booster) di mana penyakit ini menyebar dengan cepat," ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Selasa (13/7/2021).


"Tetapi bila di masa depan, ada vaksin yang lebih baik ... kita akan menemukan cara yang lebih baik untuk mengelola situasi ini."

Thailand sedang berjuang menghadapi lonjakan infeksi Covid-19 yang dipicu oleh varian Delta yang sangat menular, dengan kasus dan kematian yang meroket dan sistem perawatan kesehatan menipis.

Pihak berwenang Thailand mengatakan mereka akan mencampur dosis pertama suntikan Sinovac buatan China dengan dosis kedua AstraZeneca untuk mencoba dan mencapai efek "penguat" dalam enam minggu, bukan 12 minggu.

Tenaga kesehatan adalah yang pertama menerima vaksinSinovac, tetapi pihak berwenang mengatakan pada hari Minggu hampir 900 staf medis - kebanyakan dari mereka divaksinasi dengan suntikan itu - terkena Covid-19.

Mereka sekarang juga akan mendapatkan suntikan booster AstraZeneca atau Pfizer-BioNTech, kata pihak berwenang.

Sebelumnya Chief Scientist WHO Soumya Swaminathan menyebut strategi itu sebagai "tren berbahaya". "Kami berada di sedikit zona bebas data, bebas bukti sejauh 'campur-dan-cocokkan'", katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading