Terdepan di Industri, Gojek Terapkan Prinsip ESG Semua Lini

Tech - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
17 June 2021 18:09
Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Semakin banyak perusahaan diharapkan dapat mengedepankan upaya lingkungan, sosial dan tata kelola (Environmental, Social and Governance/ESG) untuk memitigasi tantangan sosial dan lingkungan yang kini kian kompleks. Bahkan, ESG juga dikatakan sebagai faktor penting untuk menjaga perusahaan agar tetap bertahan di tengah derasnya perubahan.

Dalam Webinar bertemakan 'The Conscious Company, Shaping the Sustainability Agenda' yang di inisiasi Gojek, panelis yang berisi para pakar bersama-sama membahas secara komprehensif penerapan ESG di industri, dan apakah perusahaan yang sadar serta bertanggung jawab atau conscious company dapat terciptakan.

Hadir pada webinar tersebut, Head of ESG Morgan Stanley Capital International (MSCI) Asia Pacific, Chitra Hepburn memaparkan data dari United Nations Principle of Responsible Investment (UNPRI) yang menunjukkan sebanyak 3.000 perusahaan di seluruh dunia telah menandatangani Principle of Responsible Investment dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Artinya, semakin banyak perusahaan mulai meninjau aspek ESG dalam bisnisnya.


Salah satu perusahaan yang telah lama menerapkan ESG dalam praktik bisnisnya adalah Unilever. Executive Vice-President Global Food dan Member of Executive Team Unilever Robbert de Vreede mengatakan untuk memberikan dampak nyata dalam praktik ESG, perusahaan harus melihat dari sisi konsumennya terlebih dulu.

Pasalnya, masih banyak keluarga yang berjuang untuk mempertahankan mata pencaharian, sehingga tidak semua orang memikirkan keberlanjutan dari sebuah produk, yang penting harganya terjangkau.

Robbert mencontohkan salah satu langkah yang diambil perusahaan adalah tentang kemasan. Unilever telah berkomitmen mengumpulkan kemasan bekas pakai yang jumlahnya sama dengan yang diproduksi. Meski Robbert mengakui tidak ada ada bentuk pengemasan yang ideal karena harus diperhitungkan daya gunanya serta penerimaannya di masyarakat.

"Masih ada permasalahan pembeli yang berpenghasilan rendah dan akses higienitas yang kurang baik, dan mereka belum sampai sana, kami melihat masih harus banyak inovasi yang pesat dalam hal ini," kata Robbert, Kamis (10/06/2021).

Namun, Robbert juga menekankan bahwa untuk menjalankan bisnis, sudah seharusnya menerapkan aspek-aspek ESG. "Kami percaya ini bisnis yang bagus; kami sudah ada selama seratus tahun, oleh karena itu misi kami untuk ada selama seratus tahun kedepan. Jadi kita harus memastikan bahwa kita mendukung dan menjaga planet dan populasi tetap sehat karena mereka merupakan potensi masa depan kita." tambah Robbert.

Komitmen untuk menjaga sinergi antara penerapan aspek ESG dan pertumbuhan bisnis inilah yang mendorong Gojek untuk melakukan hal serupa. Terbukti, perusahaan karya anak bangsa ini menjadi perusahaan berbasis internet pertama di Asia Tenggara yang menerbitkan laporan Sustainability, yang telah memenuhi aspek ESG sesuai dengan standar dari Global Reporting Initiative (GRI) dan Sustainability Accounting Standards (SASB). Dalam laporan Sustainability pertamanya, Gojek memiliki target untuk mencapai Three Zeros (Zero Emissions, Zero Waste, dan Zero Barriers) pada 2030.

Group Head of Sustainability Gojek Tanah Sullivan mengungkapkan bahwa pihaknya mempertimbangkan masukan dari pengguna, mitra serta investor dan pembuat kebijakan dalam mempersiapkan upaya sustainability perusahaan. Terutama dengan pengaruh kepada lingkungan dan sosial besar yang dimiliki perusahaan, Gojek berkomitmen untuk mempertahankan keberlanjutan pada semua lini bisnisnya.

"Gojek telah memulai usahanya untuk menerapkan prinsip sustainability yang mendukung aspek-aspek ESG di dalam berbagai programnya. Sehingga, penting juga untuk semua perusahaan lakukan demi menjaga kelangsungan bumi dan manfaat kepada kehidupan selanjutnya," kata Tanah.

Penerapan standar ESG dianggap penting dalam menghasilkan dampak positif yang besar, bukan hanya menjadi janji perusahaan semata. Apalagi saat ini semakin banyak konsumen yang mengharapkan keterbukaan dan aspek lingkungan pada penyedia jasa, termasuk pada Gojek.

"Saat ini kami masih di tahap awal, tapi tetap harus memiliki nilai strategis yang tertanam dan saling terkait. Hal yang terpenting bagi kami adalah terus meningkatkan transparansi," lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputy Head Platform for Global Public Goods World Economic Forum Antonia Gawel mengatakan isu lingkungan dan keberlanjutan telah menjadi risiko utama bagi perusahaan dalam perencanaan bisnisnya, entah itu datang dari kesadaran perusahaannya sendiri atau ekspektasi dari pemegang saham.

"Kita melihat adanya dorongan besar dan ekspektasi dari pemegang saham yang mengharapkan perusahaan mempertimbangkan peluang dan risiko ini dalam perencanaan bisnis. Jika perusahaan melakukan ini, semakin banyak pemegang saham yang mendukung. Namun jika tidak, semakin banyak pula pemegang saham yang akan turun tangan dan menekankan ekspektasi ini kepada dewan perusahaan" ujarnya.

Selain risiko dan ekspektasi, Gawel menambahkan, mengedepankan aspek ESG juga dapat membuka peluang baru yang luar biasa bagi perusahaan. "Perusahaan akan melihat bahwa keperluan untuk memitigasi risiko ini bisa membuka peluang baru yang luar biasa bagi bisnis, seperti jenis investasi dan model bisnis baru. Contohnya seperti Gojek, yang telah berkomitmen untuk berinvestasi di kendaraan listrik. Mungkin sebelumnya dilihat sebagai pengeluaran (cost), memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan bahkan dapat mengembangkan bisnis." ujar Gawel.

Chitra menambahkan, banyak investor yang saat ini ingin mulai berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Oleh karena itu, ke depannya, prinsip ESG menjadi kunci penting dalam menjalankan bisnis.

"Para investor banyak yang mulai mempedulikan tentang lingkungan. Banyak diantara mereka yang tidak mentoleransi apa yang dilakukan oleh perusahaan korporat yang belum menerapkan prinsip ini," pungkas Chitra.

"Maka dari itu, conscious company memang ada, karena bisnis apapun tidak dapat tumbuh dan berkembang jika tidak ada bumi dan masyarakat tidak memiliki daya beli. Kesuksesan bisnis, perkembangan masyarakat dan pelestarian lingkungan harus jalan beriringan dan saling menguatkan." tutup Tanah.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading