Jangan Kaget! Ini Hasil Uji Awal Vaksin Sinovac di Eropa

Tech - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
05 May 2021 05:40
Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 produksi Sinovac kepada tenaga kesehatan berusia lanjut saat kegiatan vaksinasi massal dosis pertama di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Jakarta, Senin (8/2/2021). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memulai vaksinasi tenaga kesehatan di atas 60 tahun setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan vaksin tersebut untuk lansia. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 produksi Sinovac kepada tenaga kesehatan berusia lanjut saat kegiatan vaksinasi massal dosis pertama di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Jakarta, Senin (8/2/2021). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memulai vaksinasi tenaga kesehatan di atas 60 tahun setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan vaksin tersebut untuk lansia. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Kesehatan Uni Eropa atau European Medicines Agency mengatakan telah mulai melakukan peninjauan bergulir atas vaksin Covid-19 China buatan Sinovac Life Sciences Co Ltd. Vaksin ini bernama CoronaVac.

Keputusan ini didasarkan pada hasil awal dari studi laboratorium (data non-klinis) dan studi klinis. "Studi ini menunjukkan bahwa vaksin memicu produksi antibodi yang menargetkan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19 dan mungkin dapat melindungi dari penyakit," ujar European Medicines Agency dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (5/5/2021).

Otoritas kesehatan Uni Eropa menambahkan pihaknya akan mengevaluasi vaksin Sinovac saat seluruh data tersedia untuk melihat apakah manfaat vaksin Sinovac lebih besar daripada risikonya. Badan itu akan menilai keefektifan, keamanan, dan kualitas vaksin sesuai standar Uni Eropa.


"EMA tidak dapat memprediksi lamanya waktu yang dibutuhkan secara keseluruhan, evaluasi aplikasi harusnya memakan waktu lebih singkat dari biasanya karena pekerjaan yang dilakukan secara bergulir," ungkap Eropa atau European Medicines Agency.

Lembaga itu menjelaskan vaksin Sinovac mengandung SARS-CoV-2 yang telah dinonaktifkan (dimatikan) dan tidak dapat menyebabkan penyakit. Vaksi ini juga mengandung 'adjuvan', zat yang membantu memperkuat respons imun terhadap vaksin.

"Ketika seseorang diberikan vaksin, sistem kekebalannya mengidentifikasi virus yang tidak aktif itu sebagai virus asing dan membuat antibodi untuk melawannya. Jika, kemudian hari orang yang divaksinasi bersentuhan dengan SARS-CoV-2, sistem kekebalan tubuh akan mengenali virus tersebut dan siap untuk untuk melawannya," terang European Medicines Agency.

CoronaVac menjadi vaksin Covid-19 China permata yang ditinjau oleh Uni Eropa. Saat ini ada 22 negara yang sudah menggunakan vaksin Sinovac, termasuk Indonesia, Brasil, hingga Turki.

Berdasarkan uji klinis tahap akhir di Indonesia, vaksin Sinovac Efektif 65,3% lawan Covid-19. Uji di Brasil mengatakan keampuhan vaksin ini 50,7% sementara Turki mencapai 83%.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading