Mohon Maaf! Vaksin Bukan Segala-galanya Untuk Akhiri Pandemi

Tech - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
02 March 2021 13:33
Menteri Riset dan Teknologi ( Menristek) Bambang Brodjonegoro (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro mengingat bagaimana Covid-19 pertama kali masuk ke Indonesia setahun yang lalu.

Saat itu, dirinya langsung mengadakan rapat yang melibatkan pihak terkait, salah satunya Lembaga Eijkman. Dalam rapat, yang ada di pikirannya adalah bagaimana mengatasi pandemi.

"Covid-19 meski sudah mengenal SARS Cov 10-15 tahun sebelumnya, tapi ini adalah virus baru dan belum ketahuan seperti apa karakter dan cara menanggulanginya. Sehingga dalam rapat mencoba mengeluarkan apa yang kita tahu. Melakukan apa yang terbaik," ujarnya di Jakarta, Selasa (2/3/2021).


Dia ingat, dalam rapat tersebut langsung dibuat konsorsium. Dia meminta Lembaga Eijkman untuk segera meneliti vaksin untuk covid-19. Hal ini mengingat pandemi jelas adalah penyakit menular. Menjadi masalah adalah bagaimana agar orang tidak tertular, caranya dengan vaksin.

"Kita jadikan kegiatan utama dalam konsorsium. Vaksin bukan segala-galanya apalagi bukan pekerjaan mudah dan cepat. Harus dengan penelitian mendalam. Karenanya sebelum vaksin, maka dibuatlah kategori yang lain," ujarnya menerangkan.

Salah satunya karena ini mudah menular, harus ada alat testing dan screening. Testing sesuai arahan WHO dengan PCR test yang merupakan gold standar. Sehingga otomatis harus datangkan mesin PCR.

"Kita belum punya kemampuan kembangkan PCR. Di luar PCR banyak lagi yang bisa dilakukan. Untuk bisa mencegah penularan dengan rapid test antibodi, membuat begitu banyak impor datang dari berbagai negara," katanya mengenang.

Berangkat dari semangat untuk menghilangkan ketergantungan impor alat kesehatan inilah, hanya dalam 3-4 bulan konsorsium melahirkan rapid test antibodi yang dikembangkan dari nol. Ini melibatkan UGM, Unair dan didukung oleh BPPT.

"Dari sini kebanggaan awal kita dari adanya konsorsium langsung bisa melahirkan alat yang didapatkan impor. Tim terus bekerja. Kita memberikan kesempatan seluas-luasnya. Peneliti, dosen, keluar dengan ide mereka menangani covid-19," tuturnya.

Meski dikembangkan dalam waktu singkat, menurutnya semua yang dilakukan sesuai kaidah ilmiah. Termasuk dia meminta ada publikasi ilmiah.

"Karena itu esensi ilmu pengetahuan. Untuk kepentingan umat manusia. Harus disebarkan tanpa tentunya kita khawatir nanti apa yang disampaikan di bajak oleh orang lain dan diaku-aku," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading