Joe Biden Mau Vaksinasi 100 Juta Warga AS Dalam 100 Hari, RI?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
19 January 2021 14:05
Presiden Joko Widodo menerima vaksinasi Covid-19 Perdana di Indonesia, 13 Januari 2021. (Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis Jr )

Program vaksinasi darurat di RI sudah dimulai sejak pertengahan bulan Januari ini. Tepat pada 13 Januari 2021 Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi orang pertama yang disuntikkan vaksin Covid-19 buatan Sinovac. Prosesinya pun disiarkan secara virtual agar publik bisa langsung menyaksikan momen bersejarah itu.

Setelah Jokowi, jajaran pejabat tinggi hingga publik figur pun mendapatkan gilirannya. Setidaknya saat ini RI sudah mengantungi 3 juta dosis vaksin Sinovac dan 15 juta bahan baku vaksin yang diimpor dari China untuk diproduksi oleh perusahaan farmasi pelat merah PT Bio Farma (Persero).

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (BGS) menuturkan bahwa Indonesia juga menjajaki kerja sama dengan pengembang lain seperti AstraZeneca dan Pfizer untuk mencoba mengamankan 400 juta vaksin Covid-19.


Pemerintah juga mematok target yang ambisius yakni menggratiskan vaksin Covid-19 untuk masyarakat RI. Program vaksinasi masal ditargetkan rampung dan butuh waktu kurang lebih 15 bulan.

Akankah target tersebut terpenuhi mengingat jumlah penduduk di RI mencapai lebih dari 268 juta orang?

Setidaknya ada dua faktor utama yang menentukan keberhasilan program vaksinasi masal ini dari sudut pandang tingkat partisipasi masyarakatnya. Pertama adalah komunikasi. 

Berbagai hal terkait vaksin harus dikomunikasikan ke publik secara transparan. Sebagai dengan mayoritas penduduk muslim, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menetapkan bahwa vaksin Covid-19 Sinovac suci dan halal.

Kedua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga sudah merestui penggunaan darurat vaksin Sinovac lantaran memiliki tingkat keampuhan teoritis (efficacy) sebesar 65,3%. Artinya orang yang divaksinasi dengan CoronaVac (vaksin Covid-19 Sinovac) memiliki peluang 65,3% lebih rendah terjangkit Covid-19.

Kendati lebih rendah dari yang dilaporkan oleh para pengembang vaksin lain, BPOM menilai bahwa tingkat keampuhannya masih lebih baik dari standard yang dipatok WHO di angka 50%.

Hanya saja ada yang perlu diingat bahwa itu baru analisa awal terhadap hasil uji klinis tahap III yang melibatkan 1.600 orang relawan. Ke depan angka tersebut bakal terus di-update oleh BPOM.

Faktor lain yang juga turut berpengaruh adalah jalur distribusi vaksin. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terfragmentasi dari Sabang sampai Merauke, sehingga untuk memuluskan jalannya vaksinasi tidak mudah.

Pemerintah pun menggaet pihak swasta dalam hal ini adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) untuk ikut membantu pendistribusian vaksin lantaran punya kemampuan dalam hal penyimpanan suhu dingin.

Berbagai strategi sudah disiapkan oleh pemerintah. Namun kondisi di lapangan sangatlah dinamis. Apakah program vaksinasi akan berjalan tepat waktu sehingga ekonomi bangkit, atau malah molor?

Mari kita lihat dan tunggu kelanjutan program ini. Sekali lagi menyuntikkan vaksin kepada ratusan juta orang di RI bukan pekerjaan yang mudah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/roy)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading