Derita Industri Film RI Bila Kamu Nggak Tobat Nonton Bajakan

Tech - roy, CNBC Indonesia
15 January 2021 18:05
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di bangku bioskop yang akan dibuka hari ini di CGV Grand Indonesia Mall, Rabu (21/10/2020). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan surat keputusan untuk operasi bioskop-bioskop di Jakarta. Beberapa bioskop akan mulai memutar film hari ini.
Pantauan CNBC Indonesia pada jam 12.00 belum ada penonton yang datang, kemudian pihak pengelola mengatur ulang jadwal agar jam 15.00 sudah bisa memulai pemutaran film. 
Terlihat hanya beberapa warga saja yang mulai memesan tiket di tiket box. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Streaming film ilegal seperti IndoXX1 dan LK21 sulit diberantas jika kamu masih saja suka menonton film bajakan. Padahal mengakses situs atau platform ini membuat rugi pelaku film nasional.

Menurut Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) Edwin Nazir, aksi pembajakan film adalah tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh oleh sindikat. Mereka terus saja melakukan aksi pencurian film untuk keuntungan diri sendiri.

"Masalahnya hal ini sulit diberantas jika tidak ada kesadaran publik bahwa menonton film bajakan itu sebagai tindakan yang salah dan melanggar hukum. Ini perlu diberikan edukasi yang lebih gencar lagi ke masyarakat," ujar Edwin dalam wawancara melalui sambungan telepon, Jumat (15/1/2021).


Maraknya pembajakan film dan masih banyaknya masyarakat yang menonton film bajakan merugikan para pelaku industri film. Mereka tidak mendapatkan pendapatan yang menjadi haknya ketika sebuah film diputar, yang bila berlangsung lama bisa mempengaruhi produksi film padahal produksi film menyerap banyak tenaga kerja.

Ibarat Jatuh Tertimpa Tangga Pula

Kondisi para pelaku industri film saat ini juga ibarat jatuh tertimpa tangga pula. Pendapatan banyak hilang karena kegiatan pembajakan film dan masyarakat yang menonton film bajakan, kini harus dihadapkan pada pandemi Covid-19.

Edwin Nazir mengungkapkan industri film hanya bergerak hanya 2,5 bulan pertama pada 2020. Setelah Bioskop tutup, produksi film disetop gara-gara pandemi Covid-19. Dampaknya 80% pendapatan hilang pada 2020.

"Biasanya penonton bioskop per tahun mencapai 50 juta orang, pada 2020 di bawah 12 juta orang. Ini penurunan yang besar. Biasa ada 120 jumlah film dalam satu tahun sekarang berkurang sangat banyak," terangnya.

Tak banyak produksi film membuat banyak kru film tak mendapatkan pendapatan. Pasalnya, mereka berbasis berbasis project.

"Kondisi pelaku industri film sangat susah sekarang. Ketika produksi film tak maksimal dan jumlah penonton bioskop berkurang banyak, harus mendapati pengguna platform streaming film berkurang pelanggannya karena beralih ke situs film bajakan," terang Edwin.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading