1,2 Juta Vaksin Corona Sinovac Tiba di RI, Seberapa Ampuh?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
07 December 2020 11:36
Vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu malam, 6 Desember 2020, langsung dibawa menuju Kantor Pusat Bio Farma di Kota Bandung. (Foto: Muchlis Jr - Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 buatan Sinovac sampai di Bandara Soekarno-Hatta malam tadi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung menyambut kehadiran vaksin Covid-19 di Tanah Air yang diangkut oleh Pesawat Garuda jenis Boeing 777-300ER melalui sebuah siaran pers.

"Saya ingin menyampaikan satu kabar baik, hari ini pemerintah sudah menerima 1,2 juta doss vaksin Covid, vaksin ini buatan Sinovac yang kita uji secara klinis di Bandung dari Agustus lalu," kata Jokowi dalam konferensi digital, Minggu (6/12/2020).

"Kita masih mengupayakan 1,8 juta dosis yang akan tiba awal Januari 2021. Selain vaksin dalam bentuk jadi, bulan ini akan tiba 15 juta dosis vaksin dan Januari 30 juta dosis dalam bentuk bahan baku yang akan diproses lebih lanjut oleh Bio Farma," tambah Jokowi.


Namun sebenarnya seberapa efektif vaksin buatan Sinovac ini?

Berbeda dengan kandidat vaksin lain seperti Pfizer-BioNTech, Moderna dan AstraZeneca yang mengklaim tingkat keampuhan proteksinya (efficacy) mencapai 90%, laporan interim hasil uji klinis tahap akhir kandidat vaksin CoronaVac belum dirilis oleh Sinovac. 

Di luar China, lokasi uji klinis tahap ketiga CoronaVac dilakukan di Brazil, Turki dan Indonesia. Di Brazil dan Turki jumlah relawan uji klinis tahap akhirnya mencapai lebih dari 13 ribu orang, sementara di Indonesia yang diselenggarakan di Bandung hanya sebanyak 1.620 orang peserta.

Website uji klinis clinicaltrials.gov melaporkan bahwa analisa interim hasil uji klinis tahap akhir CoronaVac di Brazil baru akan dilaporkan ketika kasus infeksi Covid-19 mencapai angka 150. 

Sampai saat ini laporan hasil uji klinis yang sudah dirilis adalah laporan uji klinis tahap pertama dan kedua. Laporan tersebut dimuat di jurnal ilmiah internasional The Lancet Infectious Disease pada 17 November lalu. 

Berdasarkan hasil yang dilaporkan, CoronaVac mampu menginduksi pembentukan antibodi penetral Covid-19. Dosis 3 mikrogram ditetapkan sebagai dosis untuk uji tingkat keampuhan pada fase akhir.

Namun ada yang menarik dari laporan uji klinis tahap 1/2 vaksin buatan perusahaan farmasi China ini. CoronaVac disebut menghasilkan antibodi penetral yang lebih rendah dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh plasma konvalesens pasien yang sembuh Covid-19. 

Meskipun begitu, CoronaVac diklaim masih tetap mampu memberikan perlindungan terhadap Covid-19. Setidaknya ada tiga alasan yang dikemukakan dalam laporan tersebut. 

Pertama adalah hasil uji klinis vaksin lain seperti enterovirus 71 dan varicella. Kedua hasil studi praklinis menunjukkan bahwa titer antibodi penawar yang ditimbulkan pada hewan model kera memberikan perlindungan lengkap terhadap virus SARS-CoV-2.

Alasan terakhir meskipun beberapa penelitian telah menemukan bahwa respons antibodi yang dihasilkan dari infeksi alami virus Corona misalnya pada Covid-19 & MERS dapat menurun secara substansial dari waktu ke waktu pasien jarang dilaporkan mengalami infeksi kembali.

Hal tersebut menunjukkan bahwa memori imunologis mungkin memiliki peran penting dalam pencegahan infeksi ulang. 

"Oleh karena itu, tingkat antibodi itu sendiri mungkin bukan kunci keberhasilan vaksin Covid-19, melainkan pembentukan respons kekebalan spesifik terhadap SARS-CoV-2." tulis laporan tersebut.

Dalam sambutannya Jokowi juga menyampaikan penggunaan vaksin ini menunggu izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 

TIM RISET CNBC INDONESIA


(twg/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading