Internasional

239 Peneliti Klaim Virus Corona Menyebar di Udara, Kata WHO?

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
06 July 2020 11:58
INFOGRAFIS, Mengenal Virus Corona dan Cara Mencegahnya

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak 239 peneliti dari 32 negara mengklaim jika virus corona (Covid-19) dalam partikel kecil dapat menyebar dan menginfeksi lewat udara (airborne). Jurnal mengenai klaim ini akan dipublikasikan pekan depan.

Dalam surat terbuka kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip dari The New York Times, para peneliti meminta WHO merevisi rekomendasinya soal Covid-19, sebab klaim lembaga ini berbeda dengan hasil penelitian ratusan orang tersebut.



Sebelumnya, WHO yang menyebut Covid-19 menyebar melalui orang ke orang dengan cairan droplet kecil, dari hidung atau mulut. Di mana bisa menular dari batuk, pilek, atau bicara seseorang.

Namun WHO menyebut tak ada bukti yang meyakinkan dari penelitian tersebut. Dalam pembaruan mengenai Covid-19 yang dirilis 29 Juni lalu, WHO mengatakan penularan virus corona melalui udara hanya mungkin terjadi setelah adanya prosedur medis yang menghasilkan aerosol, atau tetesan yang lebih kecil dari 5 mikron.

"Dalam beberapa bulan terakhir, kami telah menyatakan beberapa kali bahwa kami menganggap penularan melalui udara sebagai hal yang mungkin, tetapi tentu saja tidak didukung oleh bukti yang kuat atau bahkan jelas," kata Dr Benedetta Allegranzi, pimpinan teknis pencegahan dan pengendalian infeksi WHO.




Lebih lanjut, The New York Times menulis jika penularan virus melalui udara merupakan faktor penting dalam pandemi global ini, terutama di ruang ramai dengan ventilasi yang buruk, konsekuensi untuk pencegahan akan menjadi signifikan. Masker mungkin diperlukan di dalam ruangan, bahkan dalam pengaturan jarak sosial sekalipun.

Petugas kesehatan akan membutuhkan paling tidak masker N95 saat merawat pasien Covid-19. Sistem ventilasi di sekolah, panti jompo, tempat tinggal, dan bangunan bisnis perlu meminimalkan sirkulasi udara dan menambahkan filter udara yang lebih kuat.

Lampu ultraviolet juga akan diperlukan untuk membunuh partikel virus di dalam ruangan. Sebelumnya, di beberapa negara yang mengalami gelombang kedua Covid-19, sejumlah cluster baru muncul di dalam ruangan tertutup, seperti bar, restoran, kantor, dan kasino.

Pada awal April, sekelompok 36 pakar kualitas udara dan aerosol juga sempat mendesak WHO untuk mempertimbangkan bukti yang berkembang tentang penularan virus corona melalui udara.

Pihak WHO langsung merespon, memanggil Lidia Morawska, pemimpin kelompok tersebut, dan konsultan WHO dalam sebuah pertemuan. Sayangnya pertemuan tersebut tidak berakhir dengan baik. Beberapa ahli yang muncul dalam pertemuan bersikukuh jika virus corona bukan airborne dan tetap merasa bahwa cuci tangan adalah salah satu pencegahan terbaik saat ini.

Klaim WHO Tak Sesuai dengan Sains?
Sementara itu, dari hasil wawancara dengan sekitar 20 ilmuwan, termasuk selusin konsultan WHO dan beberapa anggota komite yang menyusun panduan, dan beberapa email internal menyatakan bahwa klaim WHO soal Covid-19 saat ini, meskipun memiliki niat baik, digambarkan tidak sesuai dengan sains.

Para ahli mengatakan, virus corona yang ditularkan melalui udara, sudah pasti dapat menginfeksi orang ketika dihirup.

"Sejak 1946, batuk dan berbicara memang menghasilkan aerosol," kata Linsey Marr, ahli dalam penularan virus melalui udara di Virginia Tech.

Sebagian besar pakar bahkan bersimpati dengan WHO yang sudah bekerja keras saat pandemi global, namun tetap harus mengelola hubungan politik yang rumit, terutama dengan Amerika Serikat dan China, seiring dengan menyusutnya anggaran mereka.

Namun hal tersebut tidak membetulkan sikap WHO. Para ahli mengatakan, komite pencegahan dan pengendalian infeksi terlalu terikat oleh pandangan bukti ilmiah yang kaku dan terlalu berorientasi pada obat-obatan.

Selain itu mereka juga, menurut para ahli, terlalu lambat dan tidak mau mengambil resiko dalam memperbarui panduannya, dan memungkinkan suara konservatif untuk meneriakkan perbedaan pendapat atas pandemi ini.

"Mereka akan mati mempertahankan pandangan mereka," kata seorang konsultan WHO secara anonim, yang saat ini masih bekerja untuk organisasi tersebut.

Senada dengan konsultan WHO tersebut, pendukung organisasi garis keras pun mengatakan komite harus mendiversifikasi keahliannya, serta melonggarkan kriteria pembuktiannya, terutama dalam wabah yang bergerak cepat.

"Saya benar-benar frustasi tentang masalah aliran udara dan ukuran partikel, tentu saja," kata Mary-Louise McLaws, anggota komite dan ahli epidemiologi di Universitas New South Wales di Sydney.

"Jika kita mulai meninjau kembali aliran udara, kita harus siap untuk mengubah banyak hal yang kita lakukan," katanya. "Saya pikir itu ide yang bagus, ide yang sangat bagus, tetapi itu akan menyebabkan getaran besar melalui masyarakat pengontrol infeksi."

Secara global, angka terjangkit sudah mencapai 11.543.532 kasus, dengan 536.344 orang meninggal dunia, dan 6.526.707 orang berhasil sembuh per Senin (6/7/2020), menurut Worldometers.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading