Soal Pinjaman Bunga Ringan Rp 5-20 Juta, Ini Kata Driver Ojol

Tech - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
02 June 2020 11:40
Driver Ojek online menunggu penumpang di kawasan Stasiun Pal Merah Jakarta, Selasa (10/3). Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengumumkan kenaikan tarif ojol. kenaikan tarif mulai 16 Maret 2020 berkisar antara Rp 150 hingga Rp 250 per kilometer (km). Kenaikan ini disambut baik oleh driver Gojek, Haryanto 35 tahun saat ditemui di pangkalan gojek Stasiun Pal Merah mengatakan
Jakarta, CNBC Indonesia - Terobosan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) untuk berkolaborasi dengan Gojek dan Grab, dalam menghadirkan skema khusus pinjaman bunga ringan bagi pengendara ojek online mampu mengurangi beban finansial pekerja sektor informal. Apalagi kebanyakan dari mitra pengemudi  bertumpu pada pendapatan harian di masa pandemi COVID-19.

Dalam program ini, BRI memberikan suku bunga terjangkau di mana cicilan dapat dibayarkan oleh penerima kredit secara harian, dan pembebasan cicilan 3 bulan pertama dari masa pinjaman 24 bulan.

Besaran pinjaman khusus yang diberikan tersebut mulai Rp 5-20 juta. Salah satu mitra pengemudi yang menerima program BRI ini adalah Teddy Sunardi (46). Dia mengungkapkan dana pinjaman yang diperolehnya dapat meringankan beban keluarga selama pandemi COVID-19 melanda.


Awalnya, Teddy mendapatkan pesan dari Gojek bahwa dirinya bisa mendapatkan pinjaman dari BRI dengan cara mengisi formulir secara elektronik.

"Setelah menunggu saya mendapat info dari BRI kalau pengajuan pinjaman saya disetujui. Kemudian, Saya diminta menyerahkan foto copy identitas diri (KTP dan Kartu Keluarga) dan pinjaman langsung ditransfer ke rekening," ujar Teddy ketika dihubungi baru-baru ini.

Mengenai mekanisme pengembalian pinjaman tersebut, Teddy menuturkan hal ini dilakukan secara harian dan langsung dipotong oleh perusahaan aplikator transportasi tempatnya bekerja. Teddy pun berharap agar BRI terus menjalankan program tersebut untuk membantu pengendara ojek online lainnya yang terdampak.

"Saya berharap terus berjalan, terus ada sehingga bisa meringankan beban driver ojek lainnya," tutup Teddy.

Sebelum menjadi pengemudi ojek online, Teddy pernah bekerja di bagian pergudangan pada sebuah perusahaan tekstil di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Musibah kebakaran yang menimpa perusahaan tempatnya bekerja, mengharuskan Teddy untuk banting setir guna memenuhi tuntutan dan kebutuhan hidup keluarga.
Awalnya tidak mudah menjalani pekerjaan sebagai pengemudi ojek online.

"Pernah diusir sama ojek pangkalan (opang), dikomplain penumpang, yah...namanya juga kerja di bidang jasa, pasti ada saja orang yang tidak puas," kenangnya.

Sebelum pandemi ini meluas, Teddy bisa mengambil 20 trip perjalanan, yang jika dikonversikan dalam penghasilan bulanan, maka dia mampu mengumpulkan sedikitnya Rp 7,5 juta sebulan. "Dapat segitu saya kerjakan mulai dari jam 7 pagi sampai pukul 5 sore," ungkap Teddy.

Namun sejak COVID-19 meluas, pendapatannya terpangkas hingga 50%. Alhasil dia terpaksa menambah jam kerjanya hingga malam hari.  Apalagi dia memiliki tanggungan seorang anak kuliah di jurusan Teknik dan seorang lain masih kelas 2 SMA.

"Untuk menyiasatinya, biasanya jam 5 saya sudah di rumah, kalau sekarang sehabis Magrib saya melanjutkan bekerja. Jadi jam terbang ditambah biar cukup. Pokoknya sampai kira-kira cukup lah," katanya.

Untuk menyiasati kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda atau ditangguhkan, Teddy dan istrinya berupaya untuk memangkas dan menahan biaya yang tidak diperlukan.

"Pokoknya dan ibarat kata harus ada yang dipangkas, hemat-hemat lah, saya maju terus pokoknya," kata Teddy.

[Gambas:Video CNBC]




(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading