Internasional

Obat Corona Gilead: Dipuja AS, Gagal Diuji China

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
30 April 2020 11:27
cover topik/dunia berlomba mencari vaksin virus corona dalam/Aristya Rahadian Krisabella
Jakarta, CNBC IndonesiaRemdesivir kini sedang menjadi obat yang digadang-gadang dapat menyembuhkan pasien terjangkit COVID-19. Namun, efek obat yang awalnya dirancang untuk mengobati Ebola ini masih simpang siur.

Berikut hasil tes remdesivir dari yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat, China, dan perusahaan biotek, dilansir dari Reuters.




Tes Remdesivir oleh Pemerintah Amerika Serikat
Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) AS merilis hasil awal dari percobaan acak penggunaan remdesivir terhadap pasien COVID-19. Penelitian tersebut memperlihatkan 31% pasien lebih cepat pulih dengan obat remdesivir dibandingkan dengan plasebo.

Sebanyak 1.063 pasien, pengguna remdesivir hanya membutuhkan waktu 11 hari untuk pulih. Sedangkan pasien yang mendapatkan plasebo harus membutuhkan 15 hari untuk pulih.

Walaupun perbedaannya tidak signifikan secara statistik, data menyarankan kemungkinan manfaat kelangsungan hidup pasien dengan obat. Membandingkan obat dengan plasebo harus memberikan para peneliti jawaban yang pasti tentang efek remdesivir pada penyakit tersebut.



Tes Remdesivir oleh Perusahaan Biotek Gilead Sciences
Perusahaan biotek asal Amerika Serikat (AS), Gilead Sciences melaporkan jika pengobatan selama lima hari dengan obat remdesivir sama baiknya dengan pengobatan plasebo selama 10 hari. Selain itu, penggunaan remdesivir juga dapat mengurangi biaya perawatan pasien.

Dalam penelitian ini, sebagian besar pasien yang menerima remdesivir selama 5 hari dianggap "membaik" setelah 10 hari. Mereka yang menerima terapi 10 hari baru menunjukkan pemulihan setelah 11 hari.

Setelah dua minggu, lebih dari setengah pasien di kedua kelompok telah dipulangkan dari rumah sakit, dan 64,5% pada kelompok pengobatan 5 hari dan 53,8% pada kelompok perawatan 10 hari telah pulih.

Data dari penelitian ini juga memberi kesan bahwa memulai terapi remdesivir lebih cepat setelah gejala muncul dapat membantu pasien COVID-19 keluar dari rumah sakit lebih cepat daripada mereka yang memulai terapi.

Namun, penelitian ini tidak memiliki kelompok kontrol, jadi belum diketahui apakah pasien dalam dua kelompok pengobatan akan bernasib lebih baik daripada pasien yang tidak diobati dengan remdesivir.

Tes Remdesivir oleh Pemerintah China
Pemerintah China melakukan penelitian acak terhadap 237 pasien dewasa yang terjangkit COVID-19 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Sebanyak 158 pasien yang menggunakan remdesivir dilaporkan tidak membaik, dibandingkan 79 pasien yang dirawat dengan menerima plasebo.

Hasil penelitian tersebut memaparkan jika obat remdesivir gagal menurunkan jumlah virus dalam tubuh atau risiko kematian pada pasien COVID-19.

Tetapi karena wabah corona di China dapat dikendalikan dengan cepat, para peneliti kesulitan mendapatkan sukarelawan untuk melakukan percobaan yang dapat menghasilkan data signifikan secara statistik, sehingga hasilnya tidak konklusif. Laporan penelitian menjalani peer review sebelum dipublikasikan di The Lancet.

[Gambas:Video CNBC]





(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading