Masuk ke Indonesia, Ini Kontroversi Ojol Maxim Asal Rusia

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
29 December 2019 16:18
Masuk ke Indonesia, Ini Kontroversi Ojol Maxim Asal Rusia
Jakarta, CNBC Indonesia - Belum lama masuk ke dalam bisnis ojek online di Indonesia, sebuah perusahaan dari Rusia, Maxim, sudah menghadirkan kontroversi. Salah satunya tentu berkaitan dengan tarif yang begitu murah hingga membuat gerah aplikator yang sudah ada di Tanah Air.

Berikut kontroversi Maxim yang dihimpun CNBC Indonesia.

Tarif di Bawah Peraturan Kementerian Perhubungan
Maxim menetapkan tarif minimal Rp 1.850 per kilometer. Sedangkan tarif batas atas Rp 2.300 per kilometer atau sesuai dengan aturan yang ditetapkan Kementerian Perhubungan.


Bedanya ada pada penetapan per empat kilometer awal yang ditetapkan Maxim Rp 3.000. Sedangkan di Gojek dan Grab berada pada kisaran Rp 7.000-10.000.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Ini karena Maxim 'membakar' uang sebagai strategi untuk bersaing di pasar ojol RI.

Development Manager Maxim Indonesia Imam Mutamad mengakui tarif murah yang dikenakan di tahap awal merupakan upaya promosi. Dia menegaskan upaya yang dihadirkan Maxi memberikan pilihan kepada pelanggan dan pengemudi.

"Inilah yang kami tawarkan pada driver memberikan satu pilihan tanpa tujuan berkompetisi dengan yang sudah ada lebih dulu. Kami memberikan pilihan kepada pelanggan ataupun driver. Jika dilihat pengembangan maxim mendapatkan respons positif dari pasar," kata Imam saat berbincang dengan CNBC Indonesia TV dalam Profit, Jumat (27/12/2019).

Ia menegaskan sebelum menerapkan harga yang sangat murah, Maxim melakukan perhitungan harga layak di setiap daerah. Setiap daerah, menurut Imam, memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Untuk itu, tarif yang berlaku tidak bisa disamaratakan.

Dalam Surat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 348 yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Mei 2019, ditentukan ada 3 zonasi. Adapun tarif minimal sebesar Rp 7.000 hingga Rp 10.000 untuk 4 kilometer pertama.

"Sebagai acuan daya beli dan kemampuan pasar supaya memberikan kemudahan interaksi dari driver dengan penumpang," kata Imam.

Namun, karena tarif ini, pekan lalu kantor Maxim di Solo digeruduk driver Grab dan Gojek. Mereka protes dengan tarif murah Maxim yang dianggap bisa memicu perang tarif dan menurunkan pendapatan driver.

Setelah aksi demo tersebut, Grab dan Gojek memberikan batas waktu 2-3 hari untuk penyesuaian tarif. Audiensi pun dilakukan oleh Dishub Solo, Gojek, Maxim, dan Grab. Penanggung Jawab aksi Bambang Wijanarko pun meminta pemerintah tegas dengan memblokir Maxim jika persyaratan belum dipenuhi.



Komisi 10% untuk Mitra Pengemudi
Meski menerapkan skema tarif yang rendah, Imam mengatakan, penghasilan yang didapatkan oleh mitra driver sesuai dengan aturan yang ditetapkan Kementerian Perhubungan. Setidaknya, Maxim hanya akan mengenakan komisi 10% pada mitra pengemudi.

"Tarif yang kami pakai, kami mengikuti minimal yang ditentukan Kemenhub dan direspons positif sama teman-teman. Mereka bekerja sesuai dengan waktu yang mereka alokasikan," kata Imam.

Selain itu, beberapa fitur yang dimiliki Maxim pun memiliki keunikan. Ia mengatakan Maxim memiliki pilihan, yakni reservasi. Pelanggan yang memiliki kebutuhan lima hari bisa memesan untuk periode tersebut. Hal itu bisa memotong waktu penjemputan. Di sisi mitra pun ada kelebihan, yaitu telah memiliki kepastian order.

Dalam bisnis ride hailing, Imam menilai terbuka bagi driver untuk menolak jika harga tidak sesuai. Di sinilah Maxim melihat peluang yang sebelumnya belum ada, untuk memberikan pilihan.

"Kita tidak bisa paksakan harga harus tinggi dengan jumlah yang terbatas, akhirnya driver juga yang mengalami omzet sedikit karena penumpang sedikit. Ini yang bisa menjadi pilihan. Kami tidak melawan aturan, kami patuhi aturannya tapi kami berikan masukan," ujar Imam.
(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading