Internasional

Biang Kerok Hong Kong Amburadul: Demonstran Termakan Hoaks

Tech - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
12 November 2019 15:25
Biang Kerok Hong Kong Amburadul: Demonstran Termakan Hoaks
Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring demo anti-pemerintah di Hong Kong memasuki pekan ke-23, kota ini juga banyak dibanjiri dengan rumor, berita palsu dan propaganda di media online. Apalagi setelah demo-demo yang kerap kali diselingi aksi bentrokan itu kembali memakan korban.

Seperti diketahui, seorang pelajar bernama Alex Chow Tsz-lok (Alex Chow) tewas pada Jumat (8/11/2019). Remaja 22 tahun dari Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong itu meregang nyawa setelah terjatuh dari lantai dua area parkir.


Ia meninggal ketika polisi mencoba membubarkan aksi massa yang terjadi di Kowloon pekan sebelumnya. Setelah kematiannya, berbagai propaganda mengenai penyebab kematian Alex pun bertebaran di dunia maya, seperti dilaporkan Bloomberg, Selasa (12/11/2019).

Menurut laporan di grup percakapan online beredar kabar bahwa kematian Alex disebabkan oleh aksi kejar-kejaran yang terjadi antara korban dengan pihak kepolisian. Ada juga kabar yang menyebut korban sengaja didorong oleh pihak kepolisian yang sedang membubarkan para pengunjuk rasa di dekatnya dengan gas air mata.

Berita yang tersebar luas juga menuduh petugas polisi sengaja menghalangi jalan ambulans yang ingin menyelamatkan Chow. Namun, pihak kepolisian Hong Kong telah membantah tuduhan itu.

Berbagai outlet media negara termasuk South China Morning Post juga telah memberitakan bahwa penyebab kejatuhan Chow tidak jelas. Namun begitu, akibat kematian Chow, bentrokan kembali terjadi di Hong Kong pada Senin kemarin.


Dalam bentrokan itu salah seorang pendemo mengalami luka tembakan oleh polisi. Kejadian ini juga tersebar luas di media sosial dan disiarkan langsung di Facebook.


Penyebaran berita palsu atau hoaks yang tak terkendali ini dipastikan akan memperkeruh suasana dan membuat demo sulit untuk dihentikan. Padahal, demo berkepanjangan telah menjerumuskan Hong Kong ke dalam resesi dan membuat berbagai pihak mempertanyakan posisi kota itu sebagai pusat keuangan utama Asia.

"Informasi palsu menjadi sumber polarisasi opini publik," kata Masato Kajimoto, asisten profesor di Pusat Studi Media dan Jurnalisme Universitas Hong Kong

"Saya khawatir itu dapat mencapai titik di mana rekonsiliasi dari kesenjangan ini tidak lagi memungkinkan," tambah pria yang telah mempelajari topik mengenai berita palsu selama tujuh tahun terakhir ini.

Pihak kepolisian Hong Kong sendiri dikabarkan kewalahan dalam menangani tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada mereka yang bersumber dari berita palsu.

Dalam 24 jam terakhir saja, aparat harus membantah desas-desus bahwa mereka memerintahkan polisi untuk menembaki pendemo sesuka hati, berencana membatasi penarikan tunai dari bank, dan akan menggunakan kekuatan darurat untuk menutup pasar keuangan dan sekolah.

Namun ternyata, berita palsu bukan hanya menjelekkan pihak berwenang saja. Para pendemo juga kerap kali menjadi korban.

Salah satunya berita soal orang-orang berduit Hong Kong yang menggambarkan demonstran sebagai perusuh, teroris dan "kecoa" yang berniat mengganggu kestabilan kota serta melakukan penawaran dengan agen asing.

Menghadapi hal ini, Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mendesak warga untuk tetap tenang dan melihat fakta-fakta yang ada secara seksama. Namun begitu, penyebaran berita palsu tampaknya sulit dibasmi.

Apalagi kota ini tidak memiliki undang-undang berita palsu/hoax. Meski, Menteri Keamanan John Lee pada bulan lalu telah mengatakan bahwa sebagian besar hukum di dunia nyata berlaku untuk dunia online.

Misalnya melarang menerbitkan informasi yang mengancam keselamatan publik. Di Oktober, pengadilan tinggi kota juga telah memberikan perintah yang melarang siapapun untuk menyebarluaskan, mengedarkan, menerbitkan atau menerbitkan kembali postingan di internet yang dapat memicu kekerasan.

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading