Internasional

Jadi Mata-mata Saudi, Mantan Karyawan Twitter Ditangkap

Tech - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
07 November 2019 13:41
Jadi Mata-mata Saudi, Mantan Karyawan Twitter Ditangkap Foto: Twitter (REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua mantan karyawan Twitter Inc dan seorang lelaki asal Arab Saudi ditangkap karena melakukan aktivitas mata-mata di Amerika Serikat (AS). Ketiganya dituduh bersalah karena telah menggali data pengguna pribadi Twitter dan memberikannya kepada salah satu pejabat Saudi.

Orang-orang tersebut diketahui bernama Ali Alzabarah dan Ahmad Abouammo, yang dulu bekerja untuk Twitter, dan Ahmed Almutairi, yang kemudian bekerja untuk keluarga kerajaan Saudi. Menurut surat pengaduan yang didapat Reuters, mereka menghadapi tuduhan karena bekerja untuk Saudi tanpa mendaftar sebagai agen asing.


Alzabarah dan Abouammo berulang kali mengakses akun Twitter seorang aktivis yang kerap mengkritik keluarga kerajaan Saudi pada awal 2015. Mereka dengan leluasa dapat melihat alamat email dan nomor telepon yang terkait dengan akun tersebut.


Keduanya juga mengakses akun pengkritik Saudi lainnya untuk mendapatkan informasi pribadi. "Informasi ini bisa digunakan untuk mengidentifikasi dan menemukan pengguna Twitter yang mempublikasikan postingan ini," kata Departemen Kehakiman dalam sebuah pernyataan, Kamis (07/11/2019).

Sementara Ahmed Almutairi, dituduh bertindak sebagai perantara bagi pemerintah Saudi dan karyawan Twitter. Ahmad Abouammo ditangkap di Seattle, Washington, AS. Ia kini dilarang terbang karena masalah keamanan serius.

Arab Saudi, sekutu penting AS dalam menghadapi Iran, telah menghadapi kritik keras dari Barat atas catatan hak asasi manusianya. Antara lain, kasus pembunuhan jurnalis Saudi bernama Jamal Khashoggi tahun lalu dan keterlibatan dalam perang yang menghancurkan Yaman.


Untuk informasi yang didapatkan, keduanya mendapatkan itu uang tunai dan sejumlah hadiah seperti arloji mahal. Kedutaan Saudi belum dapat menanggapi permintaan komentar terkait hal tersebut.

Dalam pernyataan resmi, Twitter berterima kasih kepada FBI dan Departemen Kehakiman AS, "Kami menyadari lamanya tindakan jahat itu akan mencoba dan merusak layanan kami," katanya.

"Kami memahami risiko luar biasa yang dihadapi oleh banyak orang, yang menggunakan Twitter untuk berbagi perspektif mereka dengan dunia, dan membuat mereka yang berkuasa bertanggung jawab."

[Gambas:Video CNBC]




(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading