Asosiasi Patok Bunga Fintech Maksimal 0,8%/Hari, Kartel?

Tech - Yanurisa Ananta, CNBC Indonesia
17 July 2019 10:37
Asosiasi Patok Bunga Fintech Maksimal 0,8%/Hari, Kartel?
Jakarta, CNBC Indonesia - Bunga pinjaman kredit melalui perusahaan financial technology (fintech) peer-to-peer (P2P) lending ditentukan maksimal sebesar 0,8% per hari. Besaran itu digodok Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Meski melibatkan asosiasi dan pelaku pasar dalam penentuan bunga pinjaman, prosesnya rentan atau berpotensi masuk dalam kategori kartel. Sebab, proses penentuan bunga tidak diterbitkan langsung oleh regulator.


Mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sekaligus Pendiri Institute for Competition and Policy Analysis (ICPA), Syarkawi Rauf menjelaskan kartel merupakan kesepakatan pelaku usaha dalam mengatur harga (fix pricing), mengatur pasokan produksi (output restriction), dan pengaturan wilayah pemasaran (market allocation). Ketiga kesepakatan itu disebut sebagai kartel.


"Apakah kesepakatan bunga masuk ke dalam kartel atau tidak? kalau kita lihat menyepakati [bunga pinjaman] 0,8% oleh pelaku usaha melalui asosiasi, maka itu masuk dalam kategori kesepakatan harga (fix pricing)," kata Syarkawi, Rabu (17/7/2019).

Asosiasi Patok Bunga Fintech Maksimal 0,8%/Hari, Kartel?Foto: Edward Ricardo

Syarkawi melanjutkan dalam penentuan besaran bunga, asosiasi sejatinya tidak memiliki kewenangan. Kesepakatan besaran bunga pinjaman seharusnya dilakukan melalui regulator. Pelaku usaha berkumpul melalui asosiasi kemudian mengajukan besaran bunga ke regulator.

"Sebaiknya kesepakatan ini tidak dilakukan melalui asosiasi tapi melalui regulator. Kalau memang mau mengatur bisa dilakukan sendiri lewat regulator. Jangan melalui asosiasi karena asosiasi tidak punya kewenangan," papar Syarkawi.


Syarkawi mengatakan hal serupa sempat terjadi pada industri asuransi di mana premi untuk bencana banjir besarannya dibuat berbeda-beda tergantung wilayah Jakarta oleh asosiasi/pelaku usaha asuransi.

Jika penentuan besaran bunga dilakukan melalui regulator, lanjut Syarkawi, maka hal itu tidak jadi kewenangan KPPU. KPPU tidak bisa melakukan penyelidikan akan hal itu karena ketika kebijakan yang dibuat melalui regulator masuk poin pengecualian objek penyelidikan KPPU.


"Maka terkait suku bunga ini yang paling bagus perusahaan fintech ini bersama pengurus asosiasi datang ke OJK, meminta OJK yang mengatur bunganya," imbuhnya.

Wakil Ketua Eksekutif Bidang Cashloan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Sunu Widyatmoko bunga pinjaman fintech P2P di negara lain umumnya sekitar 1% per hari. Asosiasi kemudian melihat besaran bunga di negara Inggris yang menjadi patokan di mana bunga pinjaman supreme-nya sebesar 0,8%.


Syarkawi menambahkan penentuan besaran bunga pinjaman baik sesuai standar Inggris, Amerika Serikat (AS), atau negara Uni Eropa (UE) lainnya tetap disebut kartel bila kesepakatannya dibuat oleh pelaku usaha.

"[Dampaknya] persaingannya pasti tidak ada. Perusahaan kan bersaing dengan harga ada yang dinaikan atau diturunkan. Atau mutunya diperbaiki tarif diskon dan lain-lain. Tapi ini sudah disepakati kan tidak ada lagi kompetisi karena harganya dibuat fix," jelasnya.


Komisioner KPPU, Guntur Syahputra Saragih menyatakan pihaknya saat ini belum memasukkan poin penentuan besaran bunga fintech dalam pembahasan. "Memang ada potensi mengarah pada kartel namun jujur ini belum masuk ke pembahasan kami." katanya singkat.

Simak video tentang Fintech di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading