Cryptocurrency

Survei: 35% Warga Korsel Tolak Pelarangan Mata Uang Kripto

Tech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
15 January 2018 11:32
Pelarangan mata uang kripto bertentangan dengan arah arus industri berteknologi tinggi.
Jakarta, CNBC Indonesia – Rencana kementerian kehakiman Korea Selatan (Korsel) melarang transaksi mata uang kripto (cryptocurrency) dengan menutup semua bursa mata uang kripto (cryptocurrency) mendapat tentangan masyarakat. Hampir 35% warga Korsel menentang rencana tersebut. 

Dalam survei yang dilakukan portal Incruit seperti dikutip The Korea Herald 34,9% responden menyatakan pelarangan tersebut bertentangan dengan arah industri berteknologi tinggi. Survei dilakukan pada 571 pengguna Incruit yang terdaftar pada Kamis dan Jumat pekan lalu. 

Sebanyak 21% responden meminta dibuatkan aturan yang ketat untuk mengendalikan resiko mata uang kripto. Meski begitu, ada 42,3% responden yang menyatakan pasar uang kripto akan stabil dari waktu ke waktu. 


Dalam survei tersebut 61,5% responden memiliki pengalaman berinvestasi dalam mata uang virtual. Ada 9,5% menyatakan memiliki rencana melakukan perdagangan mata uang kripto. 

Mata uang kripto seperti Bitcoin dan Ethereum dalam beberapa tahun ini dengan cepat menjadi popular dikalangan investor Korsel. Mereka berharap mendapatkan imbal hasil dengan cepat. 

Korsel merupakan salah satu negara dengan transaksi mata uang kripto terbesar di dunia. Ada lebih dari 2 juta orang diperkirakan memiliki mata uang kripto paling terkenal. 

Otoritas Korsel telah memantau perdagangan mata uang kripto karena melihat adanya potensi penggelembungan (bubble) yang bisa membuat kerugian yang besar pada masyarakat dan perekonomian.
Artikel Selanjutnya

Aksi Jual Berlanjut, Nilai Bitcoin Stagnan di Rp 108,4 Juta


(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading