Aset Keuangan Syariah Rp3.131 T, Pemerintah Andalkan Buat Ekonomi 8%
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia mengklaim, aset keuangan syariah tanah air kini telah mencapai Rp 3.131 triliun. Didukung dengan pangsa terhadap total keuangan nasional sebesar 11,36%.
"Aset keuangan syariah mencapai Rp3.131 triliun, tertinggi sepanjang sejarah," kata Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo dalam acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Pemerintah menegaskan, dengan besarnya aset keuangan syariah itu, maka dapat dijadikan alat untuk turut serta dalam mendukung laju pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih cepat, yakni menjadi 6% pada 2027 dan 8% pada 2028.
"Jadi ekonomi syariah itu menjadi salah satu andalan bagi kita untuk mencapai pertumbuhan 6% tahun 2027, dan 8% di jangka menengah. Sebagai bagian dari peningkatan daya saing," tegasnya.
Bagi pemerintah peluang ekonomi syariah masih sangat besar di Indonesia. Belanja muslim global pada 2029 diproyeksikan akan mencapai hampir US$ 3,6 triliun, dengan aset keuangan syariah global mencapai US$ 9,72 triliun.
Untuk terus mengembangkan ekonomi syariah, pemerintah menempuh lima arah strategi, yaitu penguatan industri halal dan UMKM, peningkatan ekspor dan kerja sama internasional, penguatan ekosistem halal, pengembangan keuangan syariah, serta penguatan dana sosial syariah.
"Ini menjadi salah satu peluang, strategi yang kita arahkan," tegas Dradjad.
Menurut pemerintah, rantai nilai halal yang telah berjalan selama ini di tanah air telah mampu mendorong geliat aktivitas ekonomi di Indonesia dengan porsi yang cukup besar, yakni mencapai 25% dari PDB atau senilai Rp 1.524 triliun pada kuartal IV-2025.
"Ekosistemnya juga semakin kokoh, ada 4,4 juta sertifikat halal yang mencakup 14,6 juta produk, dan kemudian 39 negara mitra melakukan mutual recognition, pengakuan sertifikasi, dan ada 4 kawasan industri halal," tutur Dradjad.
(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]